Wednesday, April 1, 2015

ETIKA DALAM PERGAULAN- filsafat ilmu





Dari segi etimologi, etika berasal dari bahasa Yunani, Ethos yang berarti watak, kesusilaan atau adat. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, etika diartikan sebagai ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak (moral). Dari pengertian tersebut, terlihat bahwa etika berhubungan dengan upaya menentukan tingkah laku manusia.
Dalam pergaulan sehari-hari, orang mengatakan perihal benar dan salah dalam sikap hidup manusia sering dikenal dengan istilah etika. Akhirnya etika berkembang menjadi kebiasaan manusia berdasarkan kesepakatan menurut ruang dan waktu yang berbeda yang menggambarkan perangai manusia dalam kehidupan.
Dalam pembahasan ini, ada beberapa permasalahan yaitu bagaimana pergaulan sesama muslim dan bagaimana cara pergaulan denngan yang non - muslim serta bagaimana cara berteman yang baik.
Secara naluri (fitrah), manusia diciptakan sebagai makhluk sosial. Yang dimaksud makhluk sosial adalah bahwa manussia tidak dapat hidup sendiri, tanpa berhubungan dengan yang lain. Agar pergaulan antar manusia itu berjalan dengan baik, maka Allah SWT mengatur cara pergaulan yang baik, yaitu pergaulan manusia sesama muslim maupun pergaulan manusia dengan yang non-muslim.
Pergaulan dengan sesama muslim, kita dilarang saling memperolok-olok, karena barang kali yang diperolok-olok justru lebih baik daripada yang mengolok-olok. Kita juga dilarang untuk berpraduga atau berprasangka terhadap orang lain. Karena memang kebanyakan dari praduga itu menjurus kepada segi yang negatif. Selain itu kita juga dilarang memanggil dengan panggilan yang buruk, mencari-cari kesalahan orang lain, bergunjing dan perbuatan lain yang merugikan sesama mu’min. Untuk menjaga keharmonisan pergaulan sesama muslim, Rasulallah SAW menetapkan enam hak bagi seorang muslim yang menjadi kewajiban bagi muslim lainnya. Sabda Rasulallah SAW :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( حَقُّ اَلْمُسْلِمِ عَلَى اَلْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ, وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ, وَإِذَا اِسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ, وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اَللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ, وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ
Artinya : Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Hak seorang muslim terhadap sesama muslim ada enam, yaitu bila engkau berjumpa dengannya ucapkanlah salam, apabila ia mengundangmu hendaklah engkau penuhi undangannya, apabila dia meminta nasehat kepadamu maka engkau nasehatilah, apabila dia
bersin dan mengucapkan alhamdulillah hendaklah engkau mendo’akannya, apabila dia sakit hendaklah engkau menjenguknya dan bila dia meninggal dunia hendaklah engkau mengiringi jenazahnya. (Riwayat Muslim).
Sikap-sikap di atas nampaknya sangat sederhana sekali, tetapi semua itu merupakan kewajiban yang harus dipenuhi oleh setiap muslim ketika bergaul dengan sesama muslim lainnya. Menengok orang sakit umpannya, ini diharuskan bagi seorang muslim sebab betapa besar hati seorang yang sedang sakit lebih – lebih ia jauh dari dari saudara dan familinya kemudian datang seseorang yang menengok untuk mengucapkan turut berduka dan mendo’akan atas kesembuhannya. Apalagi kalau orang yang sakit itu seorang fakir atau miskin kemudian datang seseorang dengan membawa sedikit makanan atau uang untuk mengurangi beban hidupnya si sakit dan keluarganya, maka sedikit banyak hal ini akan mengurangi beban penderitaannya.
Dalam pergaulan sehari-hari, umat Islam diperintahkan untuk berbuat baik kepada siapa saja. Bagaimana tidak, pergaualan menjadi pokok ajaran Islam karena hampir setiap ibadah diutamakan untuk dilakukan bersama-sama yang mencerminkan pergaulan dan kebersamaan. Mengapa sholat berjama’ah lebih baik daripada sholat sendiri – sendiri ? Ini menunjukkan, bahwa Islam adalah agama sosial, agama yang hendak memadukan kerja sama dan pergaulan sesama manusia seluruhnya. Pergaulan itu bekerja sama dengan tiap orang dengan cara yang baik dan benar, dengan muka yang manis dan lemah lembut supaya pergaulan itu dapat menumbuhkan rasa sayang dan mendatangkan rasa cinta antara satu sama lain saling mengenal satu sama lain adalah dasar hubungan  antara ssesama manusia dalam kehidupan bermasyarakat untuk menjaga keindahan pergaulan dalam masyarakat, ada berbagai macam adab dalam pergaulan.
Secara garis besar pergaulan itu perlu diperhatikan oleh setiap anggota masyarakat, misalnya saja memandang saudara – saudaranya dengan pandangan yang sewajarnya kepada yang lebih tua, yang umurnya sebaya dengan kita, ataupun yang lebih muda usia kita harus menghormati dan menyayanginya. Ada beberapa cara berteman yang baik, diantaranya dengan ta’aruf, tafahum, jujur.
Yang pertam ta’ruf. Islam adalah agama yang mengajarakan kepada umatnya untuk menyayangi terhadap sesama makhluknya. Manusia diciptakan Allah swt agar saling mengenal di antara sesamanya. Dalam kehidupan sehari-hari tentang ta’aruf atau perkenalan ini banyak dilakukan. Misalnya ketika memasuki tahun ajaran baru diadakan perkenalan bagi para siswa dan siswi baru. Siswa dan siswi yang baru masuk harus saling mengenal antara sesama teman baru, dengan kakak – kakak kelasnya, para guru, karyawan, lingkungan sekolah dan sebagainya. Dengan pengenalan ini, siswa yang baru masuk akan menjadi akrab dengan sesama siswa, mengenal lingkungan sekolah sehingga diharapkan dapat belajar dengan nyaman dan tenang.
Yang kedua adalah tafahum. Tafahum artinya saling pengertian. Dengan menerapkan sifat tafahum dalam kehidupan sehari – hari terhadap sesama teman, sesama umat islam dan terhadap sesama anggota masyarakat. Maka hidup kita akan rukun dan damai. Namun perlu diingat, bahwa ada saling pengertian yang dilarang oleh ajaran Islam, yaitu saling pengertian tentang hal-hal yang tidak baik. Contoh ada orang yang sedang mencuri, lalu kita membiarkan karena kita memaklumi bahwa pencuri itu mengambil barang orang itu karena terpaksa. Kita tidak boleh saling pengertian dalam hal ini, karena nantinya ia akan terbiasa untuk mencari dan tidak mau berusaha dengan cara yang lain, dengan cara yang baik dan halal. Dan akan mengulangi perbuatannya apabila ia tidak mempunyai uang. Oleh karena itu, kita harus menasehatinya agar tidak mengulangi lagi perbuatannya.
Yang ketiga adalah jujur. Kejujuran merupakan sifat terpuji dan kunci sukses dalam pergaulan. Membiasakan diri untuk selalu berkata yang benar merupakan sesuatu yang lebih baik daripada segala yang ada di atas bumi, baik berupa kesenangan maupun kebendaan.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa Allah swt tidak hanya mengatur cara pergaulan sesama muslim, tetapi ada juga cara pergaulan dengan non – muslim. Berteman bukan hanya dengan sesama muslim, dengan non – muslim pun tidak ada larangan untuk kita. Hal ini apabila orang-orang non – muslim tersebut tidak melakukan penyerangan terhadap orang islam. Namun, bila di atara mereka ada yang melakukan tindakan yang menyakiti orang muslim yang taat beribadah, maka non – muslim yang demikian itu tidak boleh kita pergauli dan tidak perlu kita berbuat baik kepadanya. Tetapi apabila mereka tidak berbuat seperti tersebut di atas, maka kita orang – orang islam tidak di larang untuk menjalin hubungan baik dan bersikap adil terhadap mereka.
Jadi untuk menjaga keharmonisan hubungan dengan sesama muslim, maka harus dijauhi sikap – sikap yang dapat menimbulkan perasaan sakit pada orang lain. Dan tidak ada larangan bagi  kaum muslim untuk bergaul dengan orang – orang non muslim, apabila orang – orang non – muslim tersebut tidak melakukan penyerangan terhadap orang Islam.


DAFTAR  PUSTAKA
Drs. A. Susanto, M. Pd. Filsafat Ilmu. 2011. Jakarta: Bumi Aksara.
Prof. Dr. H. Moh. Matsna, Ma. Al-Qur’an Hadist. 2008. Semarang : Karya Toha Putra.
Drs. H. Masan AF, M. Pd. Aqidah Akhlak. 2004. Semarang : Karya Toha Putra.