Sunday, June 21, 2020

BERANI HIDUP JUJUR


3.16 Menganalisis makna syaja’ah (berani membela kebenaran)dalam mewujudkan kejujuran
4.16 Menyajikan makna syaja’ah (berani membela kebenaran) dan upaya mewujudkan kejujuran dalam kehidupan sehari-hari

A.      Pentingnya Memiliki Sifat Syaja’ah
Keberanian dalam ajaran Islam disebut syaja’ah. Syaja’ah menurut bahasa artinya berani. Sedangkan menurut istilah syaja’ah adalah keteguhan hati, kekuatan pendirian untuk membela dan mempertahankan kebenaran secara jantan dan terpuji. Jadi syaja’ah dapat diartikan keberanian yang berlandaskan kebenaran, dilakukan dengan penuh pertimbangan dan perhitungan untuk mengharapkan keridaan Allah SWT.
Keberanian (syaja’ah) merupakan jalan untuk mewujudkan sebuah kemenangan dalam keimanan. Tidak boleh ada kata gentar dan takut bagi muslim saat mengemban tugas bila ingin meraih kegemilangan. Semangat keimanana akan selalu menuntun mereka untuk tidak takut dan gentar sedikitpun. Allah SWT berfirman:
وَلَا تَهِنُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَنْتُمُ الَاعْلَوْنَ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan ajanganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman”. (Qs. Ali Imran: 139)

B.       Pentingnya Memiliki Sifat Jujur
Sifat jujur merupakan tanda keislaman seseorang dan juga tanda kesempurnaan bagi si pemilik sifat tersebut. Pemilik kejujuran memiliki kedudukan yang tinggi di dunia dan diakhirat. Dengan kejujurannya, seorang hamba akan mencapai derajat orang-orang yang mulia dan selamat dari segala keburukan.
Sebaliknya, orang yang tidak jujur atau bohong akan dipersulit rezeki dan segala urusannya. Orang yang pernah berbohong akan terus berbohong karena untuk menutupi kebohongan yang diperbuat, dia harus berbuat kebohongan lagi. Bersyukurlah bagi orang yang pernah berbohong, kemudian sadar dan mengakui kebohongannya itu sehingga terputusnya mata rantai kebohongan.
Kejujuran berbuah kepercayaan, sebaliknya dusta menjadikan orang lain tidak percaya. Jujur membuat hati kita tenang, sedangkan berbohong membuat hati menjadi was-was. Kegundahan hati dan kekhawatiran yang bertumpuk-tumpuk beresiko menjadi penyakit.
Menurut tempatnya, jujur itu ada beberapa macam yakni:
1.         Jujur dalam niat dan kehendak, yaitu motivasi bagi setiap gerak dan langkah seseorang dalam rangka menaati perintah Allah SWT dan ingin mencapai ridha-Nya.
2.         Jujur dalam ucapan, yaitu memberitakan sesuatu sesuai dengan realitas yang terjadi.
3.         Jujur dalam perbuatan, yaitu seimbang antara lahiriah dan batiniah hingga tidaklah berbeda antara amal lahir dan amal batin.

C.      Harus Berani Jujur
Ketika seseorang sudah berani menutupi kebenaran, bahkan menyelewengkan kebenaran untuk tujuan jahat, ia telah melakukan kebohongan. Kebohongan yang dilakukannya itu telah membawa kepada apa yang dikhianatinya itu.
Menjaga amanah ialah menunaikan dengan baik terhadap hak-hak Allah SWT dan hak-hak manusia tanpa terpengaruhi oleh perubahan keadaan, baik susah maupub senang.
Hikmah dari perilaku jujur, antara lain:
1.         Perasaan enak dan hati tenang. Jujur akan membuat hati kita menjadi tenang, tidak takut akan diketahui kebohongannya karena tidak berbohong.
2.         Mendapatkan kemudahan dalam hidup.
3.         Selamat dari azab dan bahaya
4.         Membaca kepada kebaikan, dan kebaikan akan menuntun kita ke surga
5.         Dicintai oleh Allah SWT dan Rasul-Nya.

D.      Cara Menerapkan Perilaku Berani Membela Kebenaran dan Jujur
1.      Di sekolah, kita meluruskan niat untuk menuntut ilmu, mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh ibu bapak guru, tidak menyontek pekerjaan teman, melaksanakan piket sesuai jadwal, menaati peraturan yang berlaku di sekolah, dan berbicara benar dan sopan baik kepada guru, teman ataupun orang-orang yang ada di lingkungan sekolah.
2.      Di rumah, kita meluruskan niat untuk berbakti kepada orang tua dan memberitakan hal yang benar.
3.      Di masyarakat, kita melakukan kejujuran dengan niat untuk membangun lingkungan yang baik, tenang, dan tentram.

BERIMAN KEPADA RASUL-RASUL ALLAH


3.15   Menganalisis makna iman kepada rasul-rasul Allah swt.
4.15   Menyajikan hubungan antara iman kepada rasul-rasul Allah swt dengan keteguhan dalam bertauhid, toleransi, ketaatan, dan kecintaan kepada Allah

A.      Prinsip-Prinsip Keimanan kepada Rasul Allah
Rasul adalah manusia yang diutus Allah SWT untuk menerima wahyu-Nya agar disampaikan kepada umat. Berbeda dengan Nabi yang tidak memiliki kewajiban menyampaikan wahyu kepada umatnya. Adapun prinsip-prinsip keyakinan kepada Rasul Allah SWT sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an sebagai berikut:
1.      Setiap mukmin wajib beriman kepada Rasul Allah SWT. (QS. Al-Baqarah/2: 177 dan 285).
2.      Sebagian rasul ada yang disebutkan namanya di dalam Al-Qur’an dan ada juga yangn tidak disebutkan (QS. Al-Mu’min/Gafir/40: 78 dan QS. An-Nisa’/4: 164).
3.      Setiap umat sebelum Nabi Muhammad SAW pasti ada rasulnya (QS. Yunus/10: 47 dan QS. An-Nahl/16: 63).
4.      Semua Nabi dan Rasul adalah pria (QS. Al-Anbiya/21: 7, dan QS. Al-Furqan/25: 20).
5.      Misi setiap rasul adalah sama, yaitu menyampaikan ajaran tauhid dan menegakkan keadilan serta derajat yang sama di tengah masyarakat (Qs. Al-Anbiya’/21: 25, QS. An-Nahl/16: 36, Qs. Asy-Syura/42: 13, dan QS. Al-Ahzab/33: 45-46).
6.      Setiap rasul menggunakan bahasa kaumnya (Qs. Ibrahim/14: 4)
7.      Para rasul diutus untuk dipatuhi dan ditaati oleh umatnya (Qs. An-Nisa’/4:64)
8.      Beberapaaa sifat yang harus dimiliki oleh setiap rasul adalah:
a.       Sidik: Benar (Qs. Maryam/19: 41)
b.      Amanah: Dapat dipercaya (Qs. Ali ‘Imran/3: 79)
c.       Tablig: Menyampaikan (Qs. Al-Mai’dah/5: 67)
d.      Fatanah: Cerdik/cerdas (Qs. Al-Baqarah/2: 258-260)

B.       Sikap Mengimani Rasul Allah
Para rasul dan nabi sangat banyak jumlahnya. Ada yang menyatakan jumlahnya sebanyak 240 rasul, 360 rasul, dan ada pula yang mengatakan 313 rasul. Adapun menurut hadits dijelaskan bahwa jumlah nabi ada 124.000 dan sebagian dari mereka menjadi rasul. Di antara begitu banyak rasul, hanya ada 25 rasul yang diimani.
Di antara para rasul, rasul terbanyak diutus untuk golongan Bani Israil seperti Nabi Yusuf as., Nabi Musa as., Nabi Harun as., Nabi Zulkifli as., Nabi Daud as., Nabi Sulaiman as., Nabi Ilyas as., Nabi Ilyasa as., Nabi Yunus as., Nabi Zakaria as., Nabi Yahya as., dan Nabi Isa as., saat menyampaikan wahyu kepada umatnya, hampir semua para rasul tersebut mendapat tantangan, hinaan, bahkan siksaan dari sebagian umatnya. Karena beratnya tugas para rasul, selain Allah SWT. memberikan wahyu, mereka juuga diberi mukjizat.

C.      Tugas Rasul-Rasul Allah
Setiap Rasul Allah SWT mempunyai tugas atau misi yang sama antara lain:
1.         Menyatakan iktikad dan keyakina  kepada umatnya bahwa Allah SWT. adalah zat yang Maha Esa.
2.         Memberi batasan bagi umatnya tentangn hal-hal yang dilarang dan hal-hal yang harus dikerjakan sejalan atau sesuai perintah Allah SWT.
3.         Memberikan contoh dan suri tauladan kepada umatnya, seperti berkata benar, dapat dipercaya, menepati janji, dan berakhlak mulia.
4.         Menjelaskan kepada umatnya apa saja yang dapat membawa keridhaan Allah SWT., dan sebaliknya, apa saja yang dapat membawa kemurkaan-Nya.
5.         Mengajarkan kepada umatnya tentang berita-berita gaib sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang digariskan oleh Allah SWT., seperti pahala, dosa, surga dan neraka. 
Rasul yang mempunyai keteguhan hati, kesabaran yang luar biasa, ketabahan yang sangat tinggi, dan komitmen untuk selalu berdakwah serta mengajak umatnya untuk mengikuti seruannya disebut Ulul ‘Azmi. Para Rasul Ulul ‘Azmi adalah Nabi Nuh as., Nabi Ibrahim as., Nabi Musa as., Nabi Isa as., dan Nabi Muhammad SAW.

D.      Rasul sebagai Utusan Allah
Semua rasul Allah SWT. menyampaikan risalah tauhid dan agama Islam. Di samping itu, para rasul itu memiliki tugas untuk membimbing umatnya ke jalan yang benar dengan berpedoman kepada wahyu yang telah diberikan. Siapa pun umatnya yang mengikuti ajaran dan meninggalkan larangan-Nya akan memperoleh kebahagiaan dunia maupun akhirat.

E.       Nabi Isa As. Dalam Al-Qur’an
Menurut Al-Qur’an, Nabi Isa as., mempunyai seorang ibu bernama Maryam binti Imran. Sejak kecil Maryam diasuh oleh pamannya, Nabi Zakaria as. Maryam ditempatkan di Baitul Maqdis, sebuah rumah suci tempat ibadah kepada Allah SWT. pada suatu hari, datanglah Malaikat Jibril yang menjelma menjadi seorang pemuda yang belum dikenal sebelumnya. Pemuda yang gagah itu memberitahukan kepada Maryam bahwa Allah SWT., akan menganugerahkan kepadanya seorang putra.

F.       Nabi Muhammad SAW. Sebagai Rasul Terakhir
Nabi Muhammad SAW adalah manusia yang dipilih Allah SWT untuk menerima wahyu (QS. Al-Kahf/18: 110). Beliau adalah utusan-Nya untuk seluruh umat manusia, tanpa kecuali (QS. Saba’/34: 28), setiap tingkah lakunya senantiasa dibimbing oleh-Nya (Qs. An-Najm/53: 3-4), dan memiliki sikap kesempurnaan serta terlepas dari dosa atau maksum.

G.      Tanda-Tanda Beriman kepada Rasul Allah
Iman kepada Rasul Allah SWT. mengandung empat unsur yang merupakan tanda-tanda penghayatan terhadap fungsi iman kepada Rasul-rasul Allah SWT.
1.      Mengimani bahwa risalah rasul benar-benar dari Allah SWT. barangsiapa yang mengingatkan risalah mereka walaupun hanya seorang saja, maka ia dianggap kafir. (Qs. Asy-Syu’ara’/26: 105-122)
2.      Mengimani rasul yang dikenal maupun yang tidak dikenal namanya (Qs. Al-Mu’min/Gafir/40: 78)
3.      Membenarkan berita-berita para rasul yang bersumber dari wahyu Allah SWT. (Qs. Al Kahf/18: 110)
4.      Mengamalkan syariat rasul yang diutus Allah SWT. (Qs. An-Nisa’/4: 64)

H.      Contoh Perilaku Beriman kepada Rasul Allah
1.      Menjadikan rasul sebagai uswah
2.      Meneladani perilaku rasul dalam kehidupan sehari-hari
3.      Mengaplikasikan sifat-sifat rasul dalam segala sendi kehidupan
4.      Selalu berjalan lurus seperti yang dilakukan para rasul sehingga tercapai kesuksesan di dunia dan akhirat
5.      Selalu tabah dalam menghadapi berbagai cobaan seperti tabahnya para rasul

I.         Perilaku yang Mencerminkan Penghayatan Iman kepada Rasul Allah
1.      Menjadikan sifat Rasul sebagai sikap dalam kehidupan sehari-hari, seperti menjaga kejujuran, amanah dalam setiap langkah terbuka dalam wawasan dan pandangan serta pandai dalam mencari solusi dari setiap permasalahan.
2.      Menjalani hidup berlandaskan norma hukum (wahyu) yang telah disampaikan oleh para rasul agar tercapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.
3.      Meyakini keberadaan para rasul secara keseluruhan, mulai dari Nabi Adam as. Sampai Nabi Muhammad SAW. tanpa memilah-milah atau meniadakan satu rasul dengan lainnya.
4.      Membekali diri dengan sebaik-baik bekal, yaitu kehidupan yang dilandasi ketakwaan.
5.      Pasti ada kesalahan besar pada manusia jika Allah swt. sudah mengutus seorang rasul, namun ternyata manusia itu tidak mendapatkan kehidupan yang bahagia, bahkan di akhirat masuk neraka.

SANTUN DAN DAMAI DALAM BERDAKWAH

3.19   Menganalisis pelaksanaan khutbah, tablig, dan dakwah
4.19   Menyajikan ketentuan khutbah, tablig, dan dakwah

A.      Khutbah
1.         Pengertian
Khutbah (خَطْبَةً) berasal dari Bahasa Arab bentukan dari kata mukhatabah (مُخَا طَبَةً) yang berarti ‘pembicaraan’ atau berasal dari kata Al-khatabu (اَلْخَطَبُ) yang berarti ‘perkara besar yang diperbincangkan’. Sementara pengertian khutbah adalah menyampaikan pesan dengan taqwa sesuai perintah Allah SWT. dengan syarat dan rukun tertentu.
Khutbah tediri dari dua bagian, yaitu khutbah yang dilakukan sebelum atau sesudah shalat dan khutbah yang tidak berkaitan dengan shalat. Orang yang melakukan khutbah disebut dengan khatib dan harus laki-laki. Contoh khutbah adalah khutbah Jum’at, khutbah shalat Idain/shalat dua hari raya, khutbah shalat Khusuf, khutbah shalat Istisqa, khutbah ketika wukuf di Padang Arafah, dan khutbah nikah.
2.         Syarat Khatib
a.       Muslim yang telah balig, berakal sehat, dan taat beribadah
b.      Mengetahui syarat, rukun dan sunnah khutbah
c.       Suci dari hadats, baik pakaian, badan serta tertutup auratnya
d.      Fasih mengucapkan ayat Al-Qur’an dan hadits
e.       Memiliki akhlak yang baik, tidak tercela di mata masyarakat, dan tidak terbiasa melakukan dosa
f.       Berpenampilan baik, rapi, dan sopan
3.         Syarat-Syarat Dua Khutbah
a.       Khutbah shalat Jum’at disampaikan sesudah masuk waktu dzuhur dan sebelum pelaksanaan shalat, sementara untuk khutbah pada shalat Idain, shalat Khusuf, serta shalat Istisqa, dilaksanakan setelah selesai shalat.
b.      Berdiri bila mampu
c.       Duduk sebentar antara dua khutbah.
d.      Suara khatib harus jelas dan dapat didengar oleh jamaah agar dapat didengar nasihat dan wasiatnya.
e.       Tertib.
4.         Rukun Khutbah
a.       Membaca hamdalah pada kedua khutbah
b.      Membaca syahadatain
c.       Membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW
d.      Berwasiat kepada jamaah yang berisi ajakan untuk meningkatkan iman, taqwa, ibadah, serta nasihat agar beramal shaleh yang bermanfaat bagi kehidupannya.
e.       Membaca ayat suci Al-Qur’an
f.       Berdoa pada khutbah kedua untuk memohon ampunan, kesejahteraan, dan keselamatan bagi kaum muslimin dan muslimat, baik dunia dan akhirat.
5.         Sunnah Khutbah
a.       Khutbah disampaikan di tempat yang lebih tinggi atau di atas mimbar
b.      Khutbah disampaikan dengan kalimat yang jelas, sistematis, dan temannya sesuai dengan situasi dan kondisi yang terjadi.
c.       Dalam menyampaikan khutbahnya, khatib hendaklah memperpendek khutbah, jangan terlalu panjang.
d.      Khatib disunahkan membaca Qs. Al-Ikhlas ketika duduk di antara dua khutbah
e.       Khatib hendaklah menertibkan rukun-rukun khutbah.
6.         Adab Shalat Jum’at
a.       Hendaknya berangkat ke mesjid lebih awal. Hindari datang ketika khatib sudah menyampaikan khutbahnya karena shalat Jum’at tidak dicatat oleh malaikat.
b.      Mengisi shaf yang kosong, kemudian mengerjakan shalat tahiyyatul masjid sebanyak dua rakaat
c.       Memperbanyak zikir, berdoa, membaca shalawat Nabi SAW atau membaca Al-Qur’an dengan suara pelan sebelum imam naik mimbar.
d.      Mendengarkan khutbah, tidak boleh berbicara, menegur dengan sopan jamaah yang mengantuk atau tidak sehingga tidak mengetahui isi khutbah.
7.         Adab Shalat Idain
a.       Waktu shalat Idain dimulai dari matahari setinggi tombak sampai waktu zawal (matahari bergeser ke arah barat)
b.      Jika tidak ada halangan, tempat pelaksanaan shalat lebih utama berada di tanah lapang.
c.       Disunnahkan mandi sebelum berangkat dan memakai pakaian terbaik
d.      Disunnahkan untuk makan terlebih dahulu sebelum shaat Idul Fitri dan tidak makan sebelum shalat Idul Adha
e.       Memperbanyak bacaan takbir saat menuju tempat shalat