Showing posts with label ilmu. Show all posts
Showing posts with label ilmu. Show all posts

Thursday, November 21, 2013

Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus









Dosen Pembimbing : Esti Aryani, M. Psi
Nama : Ernawati
NIM : 11. 23. 12892
Ruang : A



1.      Pendapat saya terhadap sikap dan perlakuan orang tua yang memberikan kasih sayang yang berlebihan kepada anaknya yang berkebutuhan khusus memiliki dua sudut pandang, yakni :
a.    Sebagai orang tua tentu kita tidak dapat menyamakan perlakuan antara anak biasa dengan anak yang berkebutuhan khusus. Karena pada intinya mereka memiliki kekurangan sehingga memerlukan perhatian lebih agar memunculkan kepercayaan dirinya.
b.   Sikap kasih sayang yang berlebihan (sikap manja) dalam keluarga, dapat menimbulkan masalah sosial tersendiri ketika anak masuk dalam lingkungan yang lebih luas. Misalnya ketika anak memasuki lingkungan sekolah, dimana ia dituntut untuk tunduk pada aturan dan disiplin sebagaimana anak yang lain tanpa kecuali. Masalah sosial yang muncul, misalnya anak menjadi merasa tidak diperhatikan, merasa tertekan, merasa tersaingi, merasa diabaikan, dan merasa ditolak, yang kemudian dapat menjadikan anak merasa tidak nyaman berada di sekolah dan akhirnya malas atau bahkan tidak mau bersekolah.

2.      Pengaruh-pengaruh akibat dari kondisi ketunanetraan yang dialami anak dalam kehidupan sehari-harinya, akan berakibat pada :
a.       Perkembangan Kognitif
Ø  Tingkat dan keanekaragaman pengalaman.
Ketika seorang anak mengalami ketunanetraan, maka pengalaman harus diperoleh dengan mempergunakan indera-indera yang masih berfungsi, khususnya perabaan dan pendengaran. Tetapi bagaimanapun indera-indera tersebut tidak dapat secara cepat dan menyeluruh dalam memperoleh informasi, misalnya ukuran, warna, dan hubungan ruang yang sebenarnya bisa diperoleh dengan segera melalui penglihatan. Tidak seperti halnya penglihatan, ketika mengeksplorasi benda dengan perabaan merupakan proses dari bagian ke keseluruhan, dan orang tersebut harus melakukan kontak dengan bendanya selama dia melakukan eksplorasi tersebut. Beberapa benda mungkin terlalu jauh (bintang), terlalu besar (gunung), terlalu rapuh (binatang kecil), atau membahayakan (api) untuk diteliti dengan perabaan.

Ø  Kemampuan untuk berpindah tempat.
Penglihatan memungkinkan kita untuk bergerak dengan leluasa dalam suatu lingkungan, tetapi tunanetra mempunyai keterbatasan dalam melakukan gerakan tersebut. Keterbatasan tersebut mengakibatkan keterbatasan dalam memperoleh pengalaman dan juga berpengaruh pada hubungan sosial. Anak tunanetra harus belajar cara berjalan dengan aman dan efisien dalam suatu lingkungan dengan berbagai keterampilan orientasi dan mobilitas.

Ø  Interaksi dengan lingkungan.
Jika anda berada di tempat ramai, anda segera bisa melihat ruangan dimana anda berada, melihat orang sekitar, dan bebas bergerak di lingkungan tersebut. Orang tunanetra tidak memiliki kontrol seperti itu. Bahkan dengan keterampilan mobilitas yang dimilikinya, gambaran tentang lingkungan masih tetap tidak utuh.

b.      Perkembangan Karakteristik Akademik
Dampak ketunanetraan juga berpengaruh pada perkembangan keterampilan akademis, (membaca dan menulis). Ketika anda membaca atau menulis anda tidak perlu memperhatikan secara rinci bentuk huruf / kata, tetapi bagi tunanetra hal tersebut tidak bisa dilakukan karena ada gangguan pada ketajaman penglihatannya. Sebagai gantinya mereka menggunakan berbagai alternatif alat untuk membaca dan menulis, sesuai kebutuhannya masing-masing, seperti braille atau huruf cetak berbagai alternatif ukuran.

c.       Perkembangan Karakteristik Sosial dan Emosional
Seseorang yang normal, tidak diajarkan tentang bagaimana melihat kepada lawan bicara ketika berbicara dengan orang lain, cara menggerakan tangan ketika berpisah dengan orang lain, atau bagaimana melakukan ekspresi wajah ketika melakukan komunikasi nonverbal. Perilaku sosial dikembangkan melalui observasi terhadap kebiasaan dan kejadian sosial serta menirunya. Perbaikan biasanya dilakukan melalui penggunaan yang berulang-ulang dan bila diperlukan meminta masukan dari orang lain yang berkompeten. Karena tunanetra mempunyai keterbatasan dalam belajar melalui pengamatan dan menirukan, tunanetra sering mempunyai kesulitan dalam melakukan perilaku sosial yang benar. Akibatnya tunanetra harus mendapatkan pembelajaran khusus yang langsung dan sistematis dalam bidang pengembangan persahabatan, menjaga kontak mata atau orientasi wajah, penampilan postur tubuh yang baik, mempergunakan gerakan tubuh dan ekspresi wajah dengan benar, mengekspresikan perasaan, menyampaikan pesan yang tepat pada waktu melakukan komunikasi, serta mempergunakan alat bantu yang tepat.

d.      Akibat Pada Perkembangan Karakteristik Perilaku
Ketunanetraan tidak menimbulkan penyimpangan perilaku pada diri anak, meskipun hal tersebut berpengaruh pada perilakunya. Tunanetra kadang kurang memperhatikan kebutuhannya, sehingga cenderung orang lain membantunya, yang menimbulkan sikap pasif. Beberapa tunanetra sering menunjukkan perilaku stereotip, sehingga menunjukkan perilaku yang tidak semestinya. Seperti sering menekan matanya, membuat suara dengan jarinya, menggoyang-goyangkan kepala dan badan, atau berputar-putar. Sikap ini terjadi sebagai akibat dari tidak adanya rangsangan sensoris, terbatasnya aktifitas dan gerak di dalam lingkungan, serta keterbatasan sosial.

Selain itu, anak yang tunanetra memiliki sikap-sikap sebagai berikut :
a.       Cenderung mengembangkan rasa curiga terhadap orang lain.
Ketunanetraan membawa seseorang kehilangan kontak dengan lingkungannya, sehingga mengalami kendala memposisikan dirinya dalam lingkungan sekitarnya. Hal ini akan mengakibatkan hilangnya rasa aman dan cepat curiga terhadap orang lain.



b.      Perasaan Mudah Tersinggung.
Ketebatasan informasi dan komunikasi karena kurang berfungsinya penglihatan sering menimbulkan kesalahfahaman pada diri seorang tunanetra. Akibat kesalahfahaman ini, maka para penyandang tunanetra sering mempunyai perasaan mudah tersinggung.

c.       Mengembangkan Perasaan Rendah Diri
Ketunanetraan memiliki keterbatasan dalam memperoleh informasi dan pengalaman, kemampuan melakukan perjalanan dan menemukan sesuatu, mengkontrol lingkungan serta hubungan dirinya terhadap lingkunganya itu, yang secara tidak sadar sering mengembangkan rasa rendah diri untuk bergaul dan berkompetisi dengan orang lain.

d.      Suka Berfantasi
Akibat kekurangan informasi visual, maka tunanetra suka berfantasi atau berkhayal. Berkat usaha yang keras, maka tidak mustahil apa yang dikhayalkan menjadi kenyataan.

e.       Berpikir Kritis
Kekurangan informasi visual sering memotivasi para penyandang tunanetra untuk selalu berpikir kritis. Hal itu merupakan hasil analisis pikir mereka yang tajam, karena keingintahuan yang tinggi.

f.       Pemberani
Tunanetra yang telah menemukan jati dirinya sebagai seorang tunanetra dan dapat bersikap positif terhadap lingkungannya, biasanya tidak mau menerima nasib begitu saja. Mereka dengan percaya diri berusaha sekuat tenaga mencari peluang atau kesempatan untuk mengaktualisasikan dirinya dalam mengubah nasib, status dan kualitas hidup mereka. Kesempatan untuk maju yang harus diperjuangkan itu merupakan motivasi yang mendorong tunanetra untuk berani meningkatkan pengetahuan, kemampuan, ketrampilan, dan pengalamannya melalui berlatih atau belajar baik secara formal, maupun non-formal.

3.      Dampak dari sikap perilaku orang tua yang menolak keberadaan anak tuna grahita tentunya tidak akan mendorong perkembangan anak, tetapi malah mengakibatkan anak menjadi terpuruk oleh sikap orangg tua mereka, karena ia merasa kurang dihargai dan kurang diperlakukan dengan baik oleh keluarga dan lingkungannya. Selain itu hal ini akan membunuh potensi yang ada pada diri anak tuna grahita.

4.      Keluarga adalah sebuah sarana komunikasi untuk anak. Kebanyakan anak senang menceritakan pengalaman mereka, banyak bertanya, mengekspresikan sesuatu yang mereka rasakan pada keluarga. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa keluarga merupakan sumber kekuatan yang dimiliki anak tuna daksa, dimana dia dapat merasa nyaman, tenang, dicintai, diperhatikan, diberi dukungan, dan dapat menolongnya memenuhi kebutuhan sehari-hari. Maka, hal-hal yang sebaiknya dilakukan oleh orang tua agar anak tuna daksa mampu melaksanakan adaptasi social dengan baik adalah salah satunya dengan menumbuhkan sikap percaya diri dan ketegaran pada diri si anak. Yakinlah si anak, bahwa dia walaupun memiliki sedikit perbedaan dengan anak pada umumnya, tetapi dia mampu melakukan apa yang dilakukan anak-anak lainnya. Selain itu, yakinlan dia bahwa di dalam dirinya terdapat potensi atau bakat lebih yang ia miliki. Karena pada setiap kekurangan paasti ada kelebihan yang tersimpan. Selain itu, dapat pula kita menceritakan tentang anak-anak tuna daksa yang memiliki prestasi lebih. Hal ini akan membangkitkan semangatnya serta menjadi motivasi bagi dirinya untuk dapat memunculkan segala bakatnya dan membuat dia menatap cerah akan masa depannya. Dengan cara ini, maka anak akan memiliki rasa percaya diri yang membuatnya mudah untuk beradaptasi dengan lingkungan social. Serta, diperlukan komunikasi yang baik antara orang tua dengan anak dalam kehidupan sehari-hari, sehingga dapat lebih mudah memberi semangat pada si anak tersebut.

5.      Saran yang dapat saya berikan untuk mencegah atau menanggulangi pengaruh negatif dari film-film porno dan penyalahgunaan narkotika bagi anak dan remaja yakni :
a.       Kecanduan film porno bukan berarti tidak bisa disembuhkan. Untuk bisa lepas pornografi yang mengganggu aktivitas harus benar-benar punya keinginan untuk sembuh. Selain itu dapat dilakukan beberapa hal berikut :
1)      Pahamilah bahwa menonton video porno tidak ada untungnya sama sekali
2)      Hapus semua file gambar atau video pornografi di computer
3)      Carilah kesibukan yang lebih bermanfaat
4)      Buatlah komitmen untuk mencegah kecanduan dan apabila melanggar buatlah hukuman untuk diri anda sendiri
5)      Seringlah berinteraksi dengan keluarga dan teman-teman anda
6)      Perbanyaklah beribadah dan mendekatkan diri pada Agama
Selain itu, untuk mencegah dan menanggulangi pornografi, penguatan keluarga sebagai unit terkecil masyarakat memegang peranan penting dalam menata tata nilai kehidupan. Karena itu, keluarga harus diperkuat dari sisi kualitas sumberdaya manusia maupun pembagian peran dan tata kelola rumah tangga.
Dikatakan Jofizal, seseorang yang teradiktif atau kecanduan pornografi, bisa disembuhkan atau ditanggulangi dengan mengikuti empat hal:
1)      Punya motivasi diri untuk membebaskan diri dari adiksi dan memiliki kemauan melakukan apa yang diperlukan untuk sembuh. Anda tidak dapat memaksa seseorang untuk sembuh jika dia tidak ingin.
2)      Menciptakan lingkungan aman.
3)      Ber-afiliasi dengan support group.
4)      Individu harus memilih seorang konselor atau terapis yang mempunyai pelatihan khusus dan sukses dalam menangani kasus adiksi seks.

b.      Mengingat betapa dahsyatnya bahaya yang akan ditimbulkan oleh Narkoba dan betapa cepatnya tertular para generasi muda untuk mengkonsumsi Narkoba, maka diperlukan upaya-upaya konkrit untuk mengatasinya. Dalam upaya mencegah atau penanggulangan masalah penyalahgunaan Narkoba dapat dilakukan melalui pendekatan-pendekatan dan beberapa cara, adapun hal tersebut adalah :
1)      Meningkatkan iman dan taqwa melalui pendidikan agama dan keagamaan baik di sekolah maupun di masyarakat. Bukan hanya itu, bahkan anak yang masih dalam kandungan Sang Ibupun usaha mendidik anak tersebut sudah harus dilaksanakan yaitu dengan jalan kedua orangtuanya selalu berakhlak dan berbudi baik, menyempurnakan ibadah, memperbanyak bersedekah, membaca Al Qur’an, berpuasa, dan berdoa kepada Allah dengan tulus agar anak yang akan lahir nanti dalam bentuk fisik yang sempurna dan merupakan anak yang berjiwa shaleh.
2)      Meningkatkan peran keluarga melalui perwujudan keluarga sakinah, sebab peran keluarga sangat besar terhadap pembinaan diri seseorang. Hasil penelitia menunjukkan bahwa anak-anak nakal dan brandal pada umumnya adalah berasal dari keluarga yang berantakan (broken home). Dan unit terkecil dari masyarakat adalah rumah tangga. Di sinilah tempat pertama bagi anak-anak memperoleh pendidikan perihal nilai-nilai sejak anak dilahirkan. Maka dengan demikian orang tua sangat berperan pertama kali dalam mendidik, mengajar, membimbing, membina, dan membentuk anak-anaknya dengan :
Ø  Memelihara kesejukan, ketentraman, kesegaran, keutuhan Memberikan kasih sayang, pengorbanan, perhatian, teladan yang baik, pengaruh yang luhur.
Ø  Menanamkan nilai-nilai agama (iman dan ibadah), akhlak budi pekerti, disiplin dan prinsip-prinsip luhur lainnya.
Ø  Melakukan kontrol, filter, pengendalian, dan koreksi seluruh sikap anak-anaknya secara bijaksana baik di rumah maupun di luar, dan keharmonisan rumah tangga sehingga anak-anak merasa tenang, nyaman, aman, damai, bahagia, dan betah tinggal di tengah-tengah pergaulan keluarga setiap hari.
Ø  Penanaman nilai sejak dini bahwa Narkoba adalah haram sebagaimana haramnya Babi dan berbuat zina.
Ø  Meningkatkan peran orang tua dalam mencegah Narkoba, di Rumah oleh Ayah dan Ibu, di Sekolah oleh Guru/Dosen dan di masyarakat oleh tokoh agama dan tokoh masyarakat serta aparat penegak hukum.
Ø  Melakukan dengan cara Preventif (pencegahan), yaitu untuk membentuk masyarakat yang mempunyai ketahanan dan kekebalan terhadap narkoba. Pencegahan adalah lebih baik dari pada pemberantasan. Pencegahan penyalahgunaan Narkoba dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti pembinaan dan penyuluhan serta pengawasan dalam keluarga, penyuluhan oleh pihak yang kompeten baik di sekolah dan masyarakat, pengajian oleh para ulama, pengawasan tempat-tempat hiburan malam oleh pihak keamanan, pengawasan distribusi obat-obatan ilegal dan melakukan tindakan-tindakan lain yang bertujuan untuk mengurangi atau meniadakan kesempatan terjadinya penyalahgunaan Narkoba.
Ø  Secara Represif (penindakan), yaitu menindak dan memberantas penyalahgunaan narkoba melalui jalur hukum dan berdasarkan hukum , yang dilakukan oleh para penegak hukum atau aparat keamanan yang dibantu oleh masyarakat. Kalau masyarakat mengetahui hal tersebut harus segera melaporkan kepada pihak yang berwajib ( kepolisian ) dan tidak boleh main hakim sendiri.
Ø  Dengan pendekatan melalui Kuratif (pengobatan), bertujuan penyembuhan para korban baik secara medis maupun dengan media lain. Di Indonesia sudah banyak didirikan tempat-tempat penyembuhan dan rehabilitasi pecandu narkoba seperti Yayasan Titihan Respati, pesantren-pesantren, yayasan Pondok Bina Kasih dll.
Ø  Rehabilitatif (rehabilitasi), dilakukan agar setelah pengobatan selesai para korban tidak kambuh kembali “ketagihan” Narkoba. Rehabilitasi berupaya menyantuni dan memperlakukan secara wajar para korban narkoba agar dapat kembali ke masyarakat dalam keadaan sehat jasmani dan rohani. Kita tidak boleh mengasingkan para korban Narkoba yang sudah sadar dan bertobat, supaya mereka tidak terjerumus kembali sebagai pecandu narkoba.
Pencegahan penyalahgunaan narkoba adalah  segala upaya dan tindakan untuk menghindarkan orang memulai penggunaan narkoba; dengan menjalankan cara hidup sehat serta mengubah kondisi lingkungan yang memungkinkan seseorang terjangkit penyalahgunaan narkoba. Pencegahan tersebut meliputi :
1)      Peningkatan kesehatan dan budaya hidup sehat baik fisik maupun mental yang berlandaskan keimanan dan ketaqwaan.
2)      Pendewasaan kepribadian.
3)      Peningkatan kemampuan mengatasi masalah.
4)      Peningkatan harga diri dan percaya diri.
5)      Peningkatan hubungan intrapersonal dan interpersonal serta kemampuan social.
6)      memperkuat sektor-sektor lingkungan misalnya keluarga, sekolah, masyarakat yang mendukung peningkatan kesehatan dan pengembangan kepribadian generasi muda.
7)      Meningkatkan kesadaran masyarakat umum tentang bahaya penyalahgunaan Narkoba
8)      Meningkatnya pengetahuan masyarakat umum tentang bahaya penyalahgunaan Narkoba.
9)      Terjadinya peubahan sikap masyarakat terhadap bahaya penyalahgunaan Narkoba.
10)  Meningkatnya ketrapilan masyarakat terhadap penyalahgunaan Narkoba
11)  Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam penanggulangan bahaya penyalahgunaan Narkoba.


sikap terhadap ibu hamil



BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG MASALAH
Setiap ibu yang mengalami kehamilan pasti ada perubahan perilaku pada si ibu ini semua di perngaruhi oleh perubahan hormonal. Saat memutuskan untuk hamil suami dan istri harus benar-benar siap dengan segala perubahan yang akan terjadi nanti pada si ibu baik perubahan fisik dan perilaku, agar suami maupun istri siap menghadapinya. Jangan sampai perubahan ini membuat pasangan jadi tidak harmonis.

B.   RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan apa yang dikemukakan dalam laterbelakang maka penulis menarik suatu rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Apa yang dimaksud dengan sikap, dan kehamilan ?
2.      Bagaimana sikap dan perilaku ibu pada masa kehamilan?
3.      Apa penyebab perubahan perilaku pada ibu hamil ?
4.      Bagaimana cara mengurangi dampak negatif terhadap perubahan perilaku ?
                                               
C.    TUJUAN PENULISAN
Ada pun tujuan dari penulisan ini adalah sebagai berikut :
1.      Tujuan Umum
Kami mengangkat makalah tentang sikap ibu terhadap kehamilan adalah untuk menambah pengetahuan mengenai perubahan perilaku yang terjadi pada masa kehamilan.
2.      Tujuan Khusus
a.       Mengetahui pengertian sikap, dan kehamilan.
b.      Mengetahui sikap dan perilaku ibu pada masa kehamilan.
c.       Mengetahui penyebab perubahan perilaku pada ibu hamil.
d.      Mengetahui cara mengurangi dampak negatif terhadap perubahan perilaku.

D.   MANFAAT  PENULISAN
1.      Bagi mahasiswa
Penulisan makalah ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan wawasan mahasiswa.
2.      Bagi pembaca
Penulisan makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi para pembaca sehingga dapat mengetahui pengertian sikap, dan kehamilan; serta mengetahui sikap dan perilaku ibu pada kehamilan.
BAB II
PEMBAHASAN

A.    PENGERTIAN SIKAP DAN KEHAMILAN
Sikap adalah kesiapan seseorang untuk bertindak (G.W. Alport 1953). Sikap adalah keadaan mental dan saraf dari kesiapan, yang diatur melalui pengalaman yang memberikan pengaruh dinamik atau terarah terhadap respon individu pada semua obyek dan situasi yang berkaitan dengannya. Sikap itu dinamis atau tidak statis.
Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya hamil normal adalah 280 hari ( 40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir. Kehamilan dibagi dalam 3 triwulan yaitu triwulan pertama dimulai dari konsepsi sampai tiga bulan, triwulan kedua dari bulan keempat sampai bulan keenam, triwulan ketiga dari bulan ketujuh sampai sembilan bulan.

B.     SIKAP DAN PERILAKU IBU PADA MASA KEHAMILAN
Setiap ibu yang mengalami kehamilan pasti ada perubahan perilaku pada si ibu ini semua di perngaruhi oleh perubahan hormonal. Saat memutuskan untuk hamil suami dan istri harus benar-benar siap dengan segala perubahan yang akan terjadi nanti pada si ibu baik perubahan fisik dan perilaku, agar suami maupun istri siap menghadapinya. Jangan sampai perubahan ini membuat pasangan jadi tidak harmonis.

1.      Cenderung Malas
Para suami perlu memahami bahwa kemalasan ini bukan timbul begitu saja, melainkan pengaruh perubahan hormonal yang sedang dialami istrinya. Jadi tidak ada salahnya bila suami menggantikan peran istri untuk beberapa waktu. Misalnya dengan
menggantikannya membereskan tempat tidur, membuat kopi sendiri.

2.      Lebih Sensitif
Biasanya, wanita yang hamil juga berubah jadi lebih sensitif. Sedikit-sedikit tersinggung lalu marah. Apa pun perilaku ibu hamil yang dianggap kurang menyenangkan, hadapi saja dengan santai. Ingatlah bahwa dampak perubahan psikis ini nantinya bakal hilang. Bukan apa-apa, bila suami membalas kembali dengan kemarahan, bisa-bisa istri semakin tertekan sehingga mempengaruhi pertumbuhan janinnya.

3.      Minta Perhatian Lebih
Perilaku lain yang kerap "mengganggu" adalah  istri tiba-tiba lebih manja dan selalu ingin diperhatikan. Meskipun baru pulang kerja dan sangat letih, usahakan untuk menanyakan keadaannya saat itu. Perhatian yang diberikan suami, walau sedikit, bisa memicu tumbuhnya rasa aman yang baik untuk pertumbuhan janin. Demikian pula ketika istri merasakan pegal-pegal dan linu pada tubuhnya. Istri sering meminta suami untuk mengusap tubuhnya. Sebaiknya lakukan sambil memberikan perhatian dengan mengatakan bahwa hal ini memang sering dialami wanita yang sedang hamil dan diperlukan kesabaran untuk menghadapinya.

4.      Gampang Cemburu
Tak jarang, sifat cemburu istri terhadap suami pun muncul tanpa alasan. Pulang telat sedikit saja, istri akan menanyakan hal macam-macam. Mungkin, selain perubahan hormonal, istri pun mulai tidak percaya diri dengan penampilan fisiknya. Ia takut bila suaminya pergi dengan wanita lain. Untuk menenangkannya, suami perlu menjelaskan
dengan bijaksana bahwa keterlambatannya dikarenakan hal-hal yang memang sangat penting dan bukan karena perselingkuhan. Bila perlu, ceritakan dengan terperinci aktivitas.

5.      Hobi shopping
Bersangkutan tidak punya "hobi" ini. Baru setelah hamil lantas gemar berbelanja. Dikhawatirkan "kegemaran baru" ibu hamil ini bisa menimbulkan konflik dengan pasangan, karena ibu dinilai egois dan boros membelanjakan keperluan yang tak jelas.

6.      Malas-malasan
Bisa karena pada dasarnya ibu memang pemalas sehingga saat hamil bertambah malas akibat adanya perubahan hormonal. Pada ibu yang bekerja umumnya perasaan malas-malasan ini jarang ditemui. Kalaupun ada karena rasa bosan dan lebih mudah dialihkan pada hal lain.

7.      Tidak mau dekat-dekat suami
Ada ibu hamil yang merasa mual bila mencium bau suami. Dengan alasan itu, ia tidak mau tidur seranjang atau kalaupun tidur berbalikan badan. Penyebabnya? Jangan-jangan ada masalah komunikasi dengan pasangan yang terpendam. Di bawah sadar, mungkin lo ada kebiasaan suami yang tidak ibu sukai. Misal, suami suka mengorok kalau tidur, pulang kantor tidak langsung bersih-bersih dan sebagainya. Tanpa disadari ketidaksukaan tersebut tercetus jadi perilaku "aneh" saat ibu hamil

8.      Merasa sebal dan tak ingin ketemu mertua
Lihat kembali pada awal hubungan ibu dengan mertua selama ini. Apakah ada ketidakcocokan yang disebabkan mertua terlalu intervensi, terlalu cerewet dan sebagainya. Sikap mertua yang tidak berkenan di hati selama ini bisa tercetus jadi perilaku "aneh" selagi hamil. Memang dapat dipahami karena kondisi kehamilan yang cukup sensitif.



9.      Marah-marah pada pasangan
Cenderung dipengaruhi temperamen ibu serta bagaimana kelancaran komunikasi dengan pasangan. Akibatnya sering kali hal sepele jadi menimbulkan konflik berkepanjangan.

10.  Merasa cemburu atau curiga
Jika sesekali mungkin wajar. Namun kerap merasa curiga pada pasangan selagi ibu hamil tentu bukan hal yang sehat. Penyebabnya bisa jadi berkaitan dengan masalah kepercayaan diri. Perubahan fisik semasa hamil membuat ibu merasa tidak cantik sehingga khawatir suami berpaling.

11.  Jadi suka merokok atau kebiasaan buruk lainnya
Perilaku ini bisa karena keinginan ibu untuk coba-coba atau usaha mengatasi rasa tak enak dan tak nyaman semasa hamil. Jelas ini amat berisiko bagi kehamilan dan janin.

12.  Rajin bekerja atau suka bersih-bersih
Ada ibu yang memang terbiasa bekerja, sehingga semasa hamil pun jadi lebih rajin. Ini merupakan salah satu perilaku "aneh" yang positif. Hanya perlu diingat, saat bekerja perhatikan kondisi ibu.

C.    Penyebab perubahan perilaku pada ibu hamil
Perubahan perilaku pada ibu hamil merupakan hal wajar karena produksi hormon progesteronnya sedang tinggi. Hal inilah yang mempengaruhi banyak hal, termasuk psikis ibu. Perubahan hormon yang terjadi pada ibu hamil sebenarnya sama persis dengan perubahan hormon pada wanita yang sedang mengalami siklus haid, perubahan hormon yang terjadi tidak selamanya akan mempengaruhi psikis ibu hamil. Ada juga yang perilakunya tidak berubah. Hal ini, disebabkan kerentanan psikis setiap orang yang berbeda-beda.
Daya tahan psikis dipengaruhi oleh kepribadian, pola asuh sewaktu kecil, atau kemauan ibu untuk belajar menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut. Biasanya ibu yang menerima atau bahkan sangat mengharapkan kehamilan akan lebih mudah menyesuaikan diri dengan berbagai perubahan. Secara fisik dan psikis, mereka lebih siap.
Berbeda dari ibu yang tidak siap, umpamanya karena kehamilannya tidak diinginkan, umumnya merasakan hal-hal yang lebih berat. Begitu pula dengan ibu yang sangat memperhatikan estetika tubuh. Dia akan merasa terganggu dengan perubahan fisik yang terjadi selama kehamilan. Seringkali ibu sangat gusar dengan perutnya yang semakin gendut, pinggul lebih besar, payudara membesar, rambut menjadi kusam, dan sebagainya. Tentu hal ini akan semakin membuat psikis ibu menjadi tidak stabil. Perubahan psikis umumnya lebih terasa di trimester pertama kehamilan. Kala itu pula, ibu masih harus menyesuaikan diri dengan berbagai perubahan hormon yang terjadi. Lalu berangsur hilang di trimester kedua dan ketiga karena ibu sudah bisa menyesuaikan dirinya.

D.    MENGURANGI DAMPAK NEGATIF TERHADAP PERUBAHAN PERILAKU
Perubahan perilaku pada ibu hamil, jika kadarnya masih normal, tidak akan mengganggu proses tumbuh kembang janin. Namun, ada batasan yang mesti diwaspadai, yakni saat perilaku ibu sudah "keterlaluan". Kriteria keterlaluan memang terkesan rancu, tapi yang pasti waspadai jika ibu terlihat dilanda kecemasan berlebih atau stres sehingga perilakunya bisa "membahayakan" janin.
Misalnya, kemalasan ibu sampai membuatnya masa bodoh dengan kehamilannya. Atau kemarahan yang terjadi sudah sering berubah menjadi amukan. Kondisi psikis yang terganggu akan berdampak buruk pada aktivitas fisiologis dalam diri ibu. Umpamanya, suasana hati yang kelam dan emosi yang meledak-ledak dapat mempengaruhi detak jantung, tekanan darah, produksi adrenalin, aktivitas kelenjar keringat dan sekresi asam lambung. Di samping itu, dapat pula memunculkan gejala fisik seperti letih, lesu, gelisah, pening, dan mual. Semua dampak ini akhirnya akan merugikan pertumbuhan janin karena si kecil sudah dapat merasakan dan menunjukkan reaksi terhadap stimulasi yang berasal dari luar dirinya. Apalagi masa trimester pertama merupakan masa kritis menyangkut pembentukan organ tubuh janin.
Oleh karena itu, walaupun sifat pemalas, pemarah, sensitif, dan manja wajar muncul di masa hamil, Banyak hal yang bisa dilakukan. Jika perubahan ini ditanggapi secara positif, baik ibu maupun janin akan lebih sehat kondisinya. Inilah hal-hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi kemungkinan munculnya dampak psikis yang negative.

1.      Menyimak Informasi Seputar kehamilan
Berbagai informasi mengenai kehamilan bisa didapat dari buku, majalah, koran, tabloid, atau situs kehamilan di internet. Dengan mengetahui akar masalah yang terjadi maka ibu bisa lebih tenang menghadapi kehamilan. Ibu pun jadi tahu mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, jika tidak berusaha mencari tahu terhadap perubahan pada dirinya, tak mustahil akan timbul berbagai perasaan yang mungkin saja sangat mengganggu kondisi psikis.

2.      Kontrol Teratur
Kontrol bisa dilakukan pada dokter kandungan atau bidan. Saat konsultasi, ibu bisa menanyakan tentang perubahan psikis yang dialami. Biasanya, bila ibu perlu penanganan
lebih serius, dokter atau bidan akan menganjurkan ibu untuk menemui psikolog atau
psikiater yang dapat membantu kestabilan emosi.

3.      Perhatian Suami
Perhatian yang diberikan oleh suami bisa membangun kestabilan emosi ibu. Misalnya, ibu bisa saja meminta suami untuk menemaninya berkonsultasi ke dokter atau bidan agar merasa lebih nyaman karena ada perhatian dari pasangan.

4.      Jalin Komunikasi
Jangan pernah menutupi perubahan psikis yang terjadi, tetapi komunikasikanlah hal itu kepada suami. Dengan begitu diharapkan suami bisa berempati dan mampu memberi dukungan psikologis yang dibutuhkan. Dukungan dari lingkungan, terutama suami, sangat berpengaruh terhadap kestabilan emosi ibu hamil. Sebaliknya, perasaan ibu hamil yang dipendam sendiri tidak akan membawa perubahan. Suami tetap tidak acuh dan masalah ibu jadi berkepanjangan.

5.      Beraktivitas
Sangat dianjurkan agar ibu mencari aktivitas apa pun yang dapat meredakan gejolak
perubahan psikis. Bisa dengan menjahit, melukis, bermain musik, atau apa pun. Umumnya, ibu yang aktif di luar rumah bisa mengatasi berbagai perubahan psikisnya tersebut dengan lebih baik.

6.      Perhatikan Kesehatan
Tubuh yang sehat akan lebih kuat menghadapi berbagai perubahan, termasuk perubahan psikis. Kondisi ini bisa terwujud dengan berolahraga ringan dan memperhatikan asupan gizi. Hindari mengonsumsi makanan yang dapat membahayakan janin, seperti makanan yang mengandung zat-zat aditif, alkohol, rokok, atau obat-obatan yang tidak dianjurkan bagi kehamilan.

7.      Relaksasi
Bila ingin mendapatkan perasaan yang lebih relaks, ibu bisa mengatasinya dengan
mendengarkan musik lembut, belajar memusatkan perhatian sambil mengatur napas, senam yoga, dan bentuk relaksasi lainnya.


BAB III
PENUTUP

Sikap adalah keadaan mental dan saraf dari kesiapan, yang diatur melalui pengalaman yang memberikan pengaruh dinamik atau terarah terhadap respon individu pada semua obyek dan situasi yang berkaitan dengannya.
Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya hamil normal adalah 280 hari ( 40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir. Kehamilan dibagi dalam 3 triwulan yaitu triwulan pertama dimulai dari konsepsi sampai tiga bulan, triwulan kedua dari bulan keempat sampai bulan keenam, triwulan ketiga dari bulan ketujuh sampai sembilan bulan.
Setiap ibu yang mengalami kehamilan pasti ada perubahan perilaku pada si ibu ini semua di pengaruhi oleh perubahan hormonal. Saat memutuskan untuk hamil suami dan istri harus benar-benar siap dengan segala perubahan yang akan terjadi nanti pada si ibu baik perubahan fisik dan perilaku, agar suami maupun istri siap menghadapinya. Jangan sampai perubahan ini membuat pasangan jadi tidak harmonis. Sikap yang sering terjadi pada masa kehamilan antara lain : cenderung malas, lebih sensitif, minta perhatian lebih, gampang cemburu, hobi shopping, malas-malasan, tidak mau dekat-dekat suami, merasa sebal dan tak ingin ketemu mertua, marah-marah pada pasangan, merasa cemburu atau curiga, jadi suka merokok atau kebiasaan buruk lainnya, serta rajin bekerja atau suka bersih-bersih.
Perubahan perilaku pada ibu hamil merupakan hal wajar karena produksi hormon progesteronnya sedang tinggi. Hal inilah yang mempengaruhi banyak hal, termasuk psikis ibu. Perubahan hormon yang terjadi pada ibu hamil sebenarnya sama persis dengan perubahan hormon pada wanita yang sedang mengalami siklus haid, perubahan hormon yang terjadi tidak selamanya akan mempengaruhi psikis ibu hamil. Ada juga yang perilakunya tidak berubah. Hal ini, disebabkan kerentanan psikis setiap orang yang berbeda-beda.
Perubahan perilaku pada ibu hamil, jika kadarnya masih normal, tidak akan mengganggu proses tumbuh kembang janin. Namun bila perubahan sikap itu terlalu berlebihan, maka akan berpengaruh pada sang ibu dan janin tentunya. Jika perubahan ini ditanggapi secara positif, baik ibu maupun janin akan lebih sehat kondisinya. Inilah hal-hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi kemungkinan munculnya dampak psikis yang negative yakni : menyimak informasi seputar kehamilan, kontrol teratur, perhatian suami, jalin komunikasi, beraktivitas, perhatikan kesehatan, dan relaksasi.


DAFTAR PUSTAKA

http://anitaroza.multiply.com/video/item/1/Drug_Trafficking.mpg
http://lailynad-iis.blogspot.com/2013/01/perubahan-perilaku-ibu-hamil.html
Wiknjosastro, Hanifa. 1999. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiharjo.