Tuesday, June 7, 2016

Ruang Lingkup Pengajaran Tarikh




Tujuan mengajarkan Tarikhul Islam atau yang lebih dikenal dengan Sirah Nabawiyah bukan sekedar untuk mengetahui peristiwa-peristiwa sejarah yang mengungkapkan kisah-kisah atau kasus yang menarik saja, karena itu tidak sepantutnya kita menganggap bahwa pengajaran Sirah Nabawiyah termasuk kajian sejarah pada umumnya. Diantara tujuan mendalami Sirah Nabawiyah dan mengajarkannya adalah agar setiap muslim memperoleh gambaran tentang hakekat Islam secara paripurna, yang tercermin dalam kehidupan nabi SAW, sesudah ia memahami secara konsepsional sebagai prinsip, kaidah dan hukum. Sirah nabawiyah hanya merupakan upaya aplikatif yang bertujuan memperjelas hakikat Islam secara utuh dalam keteladanannya yang tertinggi, Nabi Muhammad SAW.
Bila kita rinci, maka aspek sikap yang harus dimiliki oleh seorang siswa ketika mempelajari Tarikh adalah sebagai berikut :
1. Memahami pribadi Rasulullah SAW melalui celah-celah lehidupan dan kondisi-kondisi yang pernah dihadapi beliau, untuk menegaskan bahwa Rasululloh SAW hanya manusia biasa seperti khalayak, akan tetapi bimbingan dan wahyu Allah telah menjadikan beliau sebagai sosok teladan yang harus diikuti oleh manusia.
2. Agar manusia mendapatkan gambaran tentang figur ideal menyangkut seluruh aspek kehidupan yang utama untuk dijadikan pegangan dan pedoman contoh perilaku hidup mulia.
3. Agar manusia mendapatkan sesuatu yang dapat membantunya di dalam memahami Al Quran dan bersemangat memperoleh tujuan-tujuan hidupnya di bawah naungan Al Quran melalui keteladanan Rasulullah SAW dalam pengamalan Al Quran.
4. Melalui Sirah atau Tarikh seorang muslim dapat mengumpulkan sekian tsaqafah ( wawasan ) dan pengetahuan Islam yang bena, baik menyangkut akidah, hukum maupun akhlaq.
5. Agar setiap pendidik menemukan sosok figur hidup dalam mengimplementasikan pola-pola pembinaan umat dan dakwah. Adalah Rasulullah SAW seorang da’i, pemberi nasehat dan pendidik yang baik, yang tidak segan-segan mencari solusi dan cara-cara baru ( tentunya dengan bimbingan wahyu ) dalam menyelesaikan problematika umat dan upaya mengentaskan kejahiliyahan mereka tentang Islam.
Sumber-sumber Pengajaran Sirah atau Tarikhul Islam
Secara umum dapat disebutkan di sini bahwa sumber dan rujukan Sirah Nabawiyah ada tiga: Kitabullah (Al-Qur’an), Sunnah Nabawiyah yang shahih, dan kitab-kitab sirah.
a. Al Quran
Kitab Allah merupakan rujukan pertama untuk memahami sifat-sifat umum Rasulullah saw. dan mengenal tahapan-tahapan umum sirah-nya yang mulia ini. Ia mengemukakan Sirah Nabawiyah dengan menggunakan salah satu dari uslub (metode) berikut. Pertama, mengemukakan sebagian kejadian dari kehidupan dan sirah-nya, seperti ayat-ayat yang menjelaskan tentang Perang Badar, Uhud, Khandaq, dan Hunain, serta ayat-ayat yang mengisahkan perkawinan dengan Zainab binti Jahsyi. Kedua, mengomentari kasus-kasus dan peristiwa-peristiwa yang terjadi untuk menjawab masalah-masalah yang timbul, mengungkapkan masalah yang belum jelas, atau untuk menarik perhatian kaum Muslimin kepada pelajaran dan nasihat yang terkandung di dalamnya. Semua itu berkaitan dengan salah satu aspek dari sirah-nya atau permasalahannya. Dengan demikian, hal itu telah menjelaskan banyak hal dari berbagai periode kehidupannya dan beragam urusan serta aktivitasnya.
Akan tetapi, pembicaraan Al-Qur’an semua itu hanya disampaikan secara terputus-putus. Betapapun beragamnya uslub Al-Qur’an dalam menjelaskan segi sirah-nya, hal itu tidak lebih dari sekedar penjelasan secara umum dan penyajian secara global dan sekilas tentang beberapa peristiwa dan berita. Demikianlah cara Al-Qur’an dalam menyajikan setiap kisah para Nabi dan umat-umat terdahulu.
b.As Sunnah Ash Shahihah
Yakni apa yang terkandung di dalam kitab-kitab para imam hadits yang terkenal jujur dan amanah, seperti kitab-kitab yang enam, Muwaththa’ Imam Malik dan Musnad Imam Ahmad. Sumber kedua ini lebih luas dan lebih rinci, hanya saja belum tersusun secara urut dan sistematis dalam memberikan gambaran kehidupan Rasulullah saw. sejak lahir hingga wafat. Hal ini disebabkan oleh dua hal. Pertama, sebagian besar kitab-kitab ini disusun haditsnya berdasarkan bab-bab fiqih atau sesuai dengan satuan pembahasan yang terkait dengan syariat Islam. Karena itu, hadits-hadits yang berkaitan dengan sirah-nya yang menjelaskan bagian dari kehidupannya terdapat pada berbagai tempat di antara semua bab yang ada. Kedua, para imam hadits, khususnya penghimpun Al-Kutub As-Sittah, ketika menghimpun hadits-hadits Rasulullah saw. tidak mencatat riwayat sirah-nya secara terpisah, tetapi hanya mencatat dali-dalil syariah secara umum yang diperlukan.
Di antara keistimewaan sumber kedua ini ialah bahwa sebagaian besar isinya diriwayatkan dengan sanad shahih yang bersambung kepada Rasulullah saw atau kepada para sahabat, yang kemudian diteruskan periwayatannya oleh para ulama hadits.
c.Kitab-kitab Sirah
Kajian-kajian sirah di masa lalu diambil dari riwayat-riwayat pada masa sahabat yang disampaikan secara turun-temurun tanpa ada yang memperhatikan untuk menyusun atau menghimpunnya dalam suatu kitab, kendatipun sudah ada beberapa orang yang memperhatikan secara khusus sirah Nabi saw dengan rincian-rinciannya. Barulah pada generasi tabi’in, sirah Rasulullah saw diterima dengan perhatian penuh perhatian. Banyak di antara mereka yang mulai menyusun data tentang Sirah Nabawiyah yang didapatkan dari lembaran-lembaran kertas. Di antara mereka ialah Urwah bin Zubair yang meninggal pada tahun 92 Hijriah, Aban bin Utsman (105 H), Syurahbil bin Sa’ad (123 H), Wahab bin Munabih (110 H), dan Ibnu Syihab Az-Zuhri (124 H). Setelah itu, muncul generasi penyusun sirah berikutnya. Tokoh generasi ini ialah Muhammad bin Ishaq (152 H). Selanjutnya disusul oleh generasi sesudahnya dengan tokoh Al-Waqidi (203 H) dan Muhammad bin Sa’ad, penyusun kitab Ath-Thaqat Al-Kubra (130 H). Ada pula kitab Sirah Nabawiyah yang dinisbatkan kepada Ibnu Hisyam, yang ada sekarang ini hanya merupakan duplikat dari Al-Maghazi-nya Ibnu Ishaq.
Ibnu Khalikan berkata, “Ibnu Hisyam adalah orang yang menghimpun sirah Rasulullah saw. dari Al-Maghazi dan As-Siar karangan Ibnu Ishaq. Ia telah menyempurnakan dan meringkasnya. Kitab inilah yang ada sekarang dan terkenal dengan Sirah Ibnu Hisyam.
Selanjutnya, lahirlah kitab-kitab Sirah Nabawiyah. Sebagiannya menyajikan secara menyeluruh, tetapi ada pula yang memperhatikan segi-segi tertentu, seprti Al-Asfahani di dalam kitabnya Dala’il An-Nubuwah, Tirmidzi di dalam kitabnya Asy-Syama’il, dan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah di dalam kitabnya Zaadul Ma’ad.

No comments:

Post a Comment