Tuesday, June 7, 2016

Ruang Lingkup Al-Quran




Al-Quran adalah kitabullah yang diturunkan kepada rosulullah muhammad SAW untuk petunjuk umat manusia.
وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَى
“…dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. (Muhammad)
إِنْ هُوَ إِلاَّ وَحْيٌ يُوحَى
Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)…”
Dan dilamnya tidak ada keraguan sedikitpun akan kebenarannya.
ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ
Berikut adalah Ruang Lingkup Al-Qura.
Secara etemologis, al-Qur’an adalah bacaan atau yang dibaca.[1] Al-Qur’an adalah mashdar dari kata qa-ra-a (قرأ), setimbangan dengan kata fu’lan (فعلان). Ada dua pengertian al-Qur’an dalam bahasa Arab, yaitu qur’an (قرآن) berarti “bacaan,” dan “apa yang dibaca tertulis padanya,” (مقروء), ismu al-fa’il (subjek) dari qara’a (قرأ).[2]
Sedangkan pengertian al-Qur’an secara terminologisnya, para ulama dari berbagai golongan mengemukakan bermacam-macam definisi. Definisi-definisi tersebut berbeda-beda bunyinya dan sekaligus mempunyai arti yang berbeda pula. Ulama dari kalangan ushul fiqh mengemukakan definisi yang berbeda dari apa yang diungkapkan oleh ulama ilmu kalam. Begitu juga ulama dari golongan tafsir berbeda dengan ulama hadits serta ahli bahasa dalam mendefinisikan al-Qur’an.
Perbedaan-perbedaaan itu muncul karena antara lain disebabkan oleh perbedaan pandangan mereka dalam memerlukan unsur-unsur apakah yang harus dimasukkan ke dalam definisi al-Qur’an itu sehingga definisi tersebut benar-benar dapat memberikan gambaran tentang sifat-sifat yang esensial dari al-Qur’an itu. Dan tentu saja masing-masing mereka (baca: golongan) itu memandang al-Qur’an dari segi keahlian mereka dan kemudian melahirkan definisi yang dititik beratkan kepada sifat-sifat yang menurut mereka adalah sangat penting untuk diungkapkan.
Menurut ulama ushul fiqh, al-Qur’an adalah kalamullah, mengandung mu’jizat dan diturunkan kepada nabi Muhammad, dalam bahasa Arab yang dinukilkan kepada generasi sesudahnya secara mutawatir, membacanya merupakan ibadah, terdapat dalam mushaf, dimulai dari dari surat al-Fatihah dan ditutup dengan surat an-Nas.[3]
Menurut Syeh Muhammad Abduh (ulama ilmu kalam), al-Kitab ialah al-Qur’an yang dituliskan dalam mushaf-mushaf dan telah dihafal oleh umat Islam sejak masa hidupnya Rasulullah sampai pada masa kita sekarang ini.[4] Hasbi Ash Shiddieqy menambahkan, menurut ahli kalam, al-Qur’an adalah yang ditunjuk oleh yang dibaca itu, yakni: kalam azali yang berdiri pada dzat Allah yang senantiasa bergerak (tak pernah diam) dan tak pernah ditimpa sesuatu bencana.[5]
Menurut Imam Jalaluddin As-Sayuthy (ulama hadits), al-Qur’an adalah firman Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad untuk melemahkan pihak-pihak yang menentangnya walaupun satu surat saja dari padanya.[6]
Harun Nasution mendefinisikan al-Qur’an sebagai kitab suci, mengandung sabda Tuhan (Kalam Allah), yang melalui wahyu disampaikan kepada Nabi Muhammad.[7]
Dari beberapa definisi yang telah diungkapkan oleh para ulama di atas, dapat disimpulkan. Pertama, bahwa al-Qur’an merupakan kalam Allah yang diturunkan kepada Muhammad. Artinya, apabila kalamullah dan tidak diturunkan kepada Muhammad maka tidak dinamakan al-Qur’an, seperti Zabur, dan lain-lain.
Kedua, al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab Quraisy. Dengan adanya ketentuan ini berarti bahwa terjemahan al-Qur’an dalam bahasa-bahasa asing selain bahasa Arab, bukanlah al-Qur’an. Oleh sebab itu terjemahan-terjemahan al-Qur’an itu tidak mempunyai sifat-sifat khas seperti yang dimiliki oleh al-Qur’an. Ia tidak dinamakan kitab suci sehingga kita tidak berdosa bila menyentuhnya tanpa berwudlu terlebih dahulu. Dan ia tidak berfungsi sebagai mu’jizat, karena terjemahan adalah buatan manusia.
Ketiga, al-Qur’an itu dinukilkan kepada generasi berikutnya secara mutawatir yaitu diriwayatkan oleh orang banyak, dari orang banyak, kepada orang banyak, tanpa perubahan dan penggantian satu katapun sehingga mustahillah mereka itu akan bersepakat untuk berdusta.
Keempat, membaca setiap kata dalam al-Qur’an itu mendapat pahala dari Allah, baik bacaan itu berasal dari hafalan sendiri maupun langsung dari mushaf al-Qur’an.
Kelima, al-Qur’an adalah mu’jizat yang terbesar yang diberikan allah kepada nabi Muhammad. Namun demikian, walaupun nabi-nabi terdahulu sebelum nabi Muhammad itu diberikan semacam mu’jizat, namun kitab suci mereka tidaklah berfungsi sebagai mu’jizat.
Keenam, membaca al-Qur’an itu dapat dijadikan sebagai suatu ibadah. Dan ketujuh, ciri terakhir dari al-Qur’an yang dianggap sebagai suatu kehati-hatian bagi para ulama untuk membedakan al-Qur’an dengan kitab-kitab lainnya adalah bahwa al-Qur’an itu dimulai dari surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surat an-Nas. Artinya, segala sesuatu yang ada (baca: bacaan) sebelum surat al-Fatihah atau sesudah surat an-Nas bukan dinamakan al-Qur’an.
Kemudian, dinyatakan pula bahwa kalam Allah yang diwahyukan kepada Muhammad SAW tidak hanya dinamai al-Qur’an tetapi juga dinamai dengan al-Kitab, al-Furqan, adz-Dzikr, dan at-Tanzil. Nama-nama itu menunjukkan atas ketinggian derajat dan kedudukan dari al-Qur’an atas kitab-kitab samawi yang lain.[8]  Dinamakan al-Kitab karena ia dibaca, sesuai dengan firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 2:
ذَلِكَ الكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلمُتَّقِينَ
Artinya:
“Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.” (Q.S. al-Baqarah: 2).[9]
Dinamakan al-Furqan karena ia memisahkan perkara antara yang benar dan yang salah, yang haq dan yang bathil. Sesuai dengan firman Allah dalam surat al-Furqan ayat 1:
تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلعَالَمِينَ نَذِيراً
Artinya:
“Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar Dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam” (Q.S. al-Furqan: 1). [10]

Dinamakan adz-Dzikr karena ia merupakan peringatan dari Allah. Firman Allah dalam surat al-Hijr ayat 9:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
 Artinya:
“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar akan memeliharanya”.(Q.S. al-Hajar: 9).[11]
Dinamakan at-Tanzil karena al-Qur’an itu diturunkan oleh Allah kepada nabi Muhammad melalui malaikat Jibril. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat asy-Syu’ara’ ayat 192-193:
وَإِنَّهُ لَتَنزِيلُ رَبِّ العَالَمِينَ. نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الأَمِينُ
Artinya:
“Dan Sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam. Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril)” (Q.S. asy-Syu’ara: 192-193).[12]
Berdasarkan dari pengertian tersebut di atas, maka bagi umat Nabi Muhammad saw hendaknya mau membaca dan mempelajari al-Qur’an, walaupun dengan cara sedikit demi sedikit dengan demikian nantinya akan dapat membaca al-Qur’an dengan baik sebagaimana yang dikehendaki Allah.
Oleh karena al-Qur’an diturunkan kepada nabi Muhammad SAW tidak sekaligus turun berupa satu kitab, tetapi diturunkan secara berangsur-angsur ayat demi ayat menurut kepentingan dan kejadian pada saat itu sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah. Diturunkanya al-Qur’an secara berangsur-angsur itu dengan maksud agar mudah dibaca, dipahami dan diamalkan bagi Nabi Muhammad SAW beserta umatnya dan umumnya bagi semua manusia, firman Allah dalam Q.S. al-Isra’: 106.
وَقُرْآناً فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلنَاهُ تَنزِيلاً
 Artinya:
“Dan al-Qur’an itu telah kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakanya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkanya bagian demi  bagian.” (Q.S. al-Isra’: 106).[13]
Dari arti ayat dan keterangan di atas, jelaslah bahwa diturunkanya al-Qur’an sedikit demi sedikit sangat berguna dan mengandung kepentingan yang tidak sedikit bagi umat manusia yang mau mempelajarinya, orang yang mau menerima pengajaran al-Qur’an akan dapat membaca, memahami dan mengamalkan sedikit demi sedikit ajaran yang terdapat di dalamnya.
Demikian juga perlu diingat bagi pendidik/guru yang memberikan pendidikan dan pengajaran kepada siswanya, tidak mungkin dapat menanamkan pendidikan dengan sekali jadi, akan tetapi dapat melakukanya sedikit demi sedikit sampai akhirnya tertanam dalam hati terdidik secara sempurna. Apalagi untuk menanamkan kemampuan membaca al-Qur’an kepada anak hendaknya dilakukan sejak anak masih kecil ketika anak masih dalam pendidikan keluarga/orang tua sebagai pendidik yang pertama dan utama, karena kemungkinan keberhasilan pendidikan dirumah akan sangat menunjang pendidikan/prestasi anak di sekolahnya.
  Keutamaan Al-Qur’an
Sebagaimana penjelasan terdahulu bahwa al-Qur’an adalah firman Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad dan al-Qur’an juga mengandung ibadah bagi orang yang membacanya. Di samping al-Qur’an merupakan ibadah, juga mempunyai keutamaan antara lain sebagai berikut:
Al-Qur’an merupakan salah satu rahmat dan petunjuk bagi manusia.
Al-Qur’an adalah kitab suci yang diturunkan Allah kepada nabi Muhammad SAW, sebagai salah satu rahmat yang tiada taranya bagi alam semesta. Di dalamnya terkumpul wahyu yang menjadi petunjuk, pedoman, dan pelajaran bagi siapapun yang mempercayainya. Firman Allah Q.S. Yunus: 57,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاء لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلمُؤْمِنِينَ

Artinya:
Hai Manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Q.S. Yunus: 57).[14]
Petunjuk yang dimaksud adalah petunjuk agama, atau yang biasa juga disebut syari’at. Dari syari’at ditemukan sekian banyak dari rambu-rambu jalan: ada yang berwarna merah yang berarti larangan; ada yang berwarna kuning, yang memerlukan kehati-hatian; dan ada yang hijau warnanya, yang melambangkan kebolehan melanjutkan perjalanan. Ini semua persis sama dengan lampu-lampu lalu lintas. Lampu merah tidak memperlambat seseorang sampai ke tujuan. Bahkan ia merupakan salah satu faktor utama yang memelihara perjalanan dari mara bahaya. Demikian juga dengan larangan-larangan agama.
Bukan itu saja, al-Qur’an adalah kitab suci yang paling penghabisan diturunkan oleh Allah yang paling sempurna dibandingkan dengan kitab-kitab suci sebelumnya.
Karena itu setiap orang yang mempercayai al-Qur’an akan bertambah cinta kepadanya, cinta untuk membaca, mempelajari, memahami serta mengamalkan sampai merata rahmatnya dirasai dan dikecap oleh penghuni alam semesta.
Membaca al-Qur’an termasuk amal kebaikan yang mendapat pahala dengan berlipat ganda.
Setiap mukmin yakin bahwa membaca al-Qur’an saja sudah termasuk amal yang sangat mulia dan akan mendapat pahala yang berlipat ganda, sebab yang dibaca itu adalah kitab suci ilahi. Al-Qur’an adalah sebaik-baik bacaan bagi orang mukmin, baik dikala ia senang atau susah, dikala gembira ataupun dikala sedih.
Dalam sebuah hadits Rasulullah menjelaskan tentang pahala orang yang membaca al-Qur’an:
اَلْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ ألْكِرَامِ الْبَرَرَةِ. وَالَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتتََعْتَعُ فِيْهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّّّ لَهُ أَجْرَانِ (رواه مسلم)
Artinya:
“Orang yang membaca al-Qur’an, lagi pula ia mahir, kelak mendapat tempat di dalam surga bersama dengan rasul-rasul yang mulia lagi baik, dan orang yang membaca al-Qur’an, tetapi tidak mahir. Membacanya tertegun-tegun dan tampak agak berat lidahnya (belum lancar), dia akan mendapatkan dua kali lipat pahala.” (H.R. Muslim).[15]
Membaca al-Qur’an menjadikan obat dan penawar bagi orang yang jiwanya gelisah.
Membaca al-Qur’an bukan saja merupakan ibadah, tetapi juga menjadi obat penawar bagi orang yang gelisah hatinya. Maka dari itu tidak mengherankan lagi membaca al-Qur’an bagi setiap muslim di manapun ia berada telah menjadi tradisi. Keutamaannya telah dikenal luas, dapat mendatangkan ketenangan dan kedamaian jiwa. Sebagaimana firman Allah dalam Q.S al-Fusshilat: 44
وَلَوْ جَعَلنَاهُ قُرْآناً أَعْجَمِيّاً لَّقَالُوا لَوْلاَ فُصِّلَتْ آيَاتُهُ أَعْجَمِيٌّ وَعَرَبِيٌّ قُل هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاء وَالَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ فِي آذَانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى أُوْلَئِكَ يُنَادَوْنَ مِن مَّكَانٍ بَعِيدٍ

Artinya:
“Dan Jikalau Kami jadikan Al Quran itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan: “Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?” Apakah (patut Al Quran) dalam bahasa asing sedang (Rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: “Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Quran itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh”. (Q.S. al-Fusshilat: 44).[16]
Dalam sebuah hadits Rasulullah menjelaskan bahwa Allah akan memberikan rahmatnya bagi orang-orang yang membaca al-Qur’an, termasuk di dalamnya tempat yang digunakan untuk membaca al-Qur’an, baik masjid, mushalla, surau, dan lain sebagainya.
اَلْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ أَلْكَرَامَةِ اَلْبَرَارَةِ وَالَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنِ وَيَتَعْتَعُ فِيْهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّّّ لَهُ أَجْرَانِ (رواه مسلم)
Artinya:
“Orang yang membaca al-Qur’an, lagi pula ia mahir, kelak mendapat tempat di dalam surga bersama dengan rasul-rasul yang mulia lagi baik, dan orang yang membaca al-Qur’an, tetapi tidak mahir. Membacanya tertegun-tegun dan tampak agak berat lidahnya (belum lancar), dia akan mendapatkan dua kali lipat pahala.” (HR. Bukhari Muslim).[17]
Dari beberapa pemaparan dia atas, maka al-Qur’an harus disosialisasikan, diajarkan pada seluruh manusia, baik untuk peserta didik maupun masyarakat umum. Mengajarkanya al-Qur’an kepada orang lain itu merupakan pekerjaan yang mulia menurut ajaran Islam, maka dari itu banyak orang yang sudah mahir membaca al-Qur’an mengajarkanya kepada orang yang buta al-Qur’an, sehingga banyak metode yang digunakan para ustadz/guru mengaji untuk mengajarkan al-Qur’an kepada murid atau santrinya.
Demikian pula belajar melagukan al-Qur’an, di Indonesia bukan lagi merupakan hal yang asing. Melagukan ayat-ayat suci al-Qur’an sudah dibudayakan melalui Musabaqah Tilawat al-Qur’an. Kegiatan ini diselenggarakan oleh pemerintah mulai tingkat kecamatan sampai dengan tingkat nasional/Negara. Sehingga muncullah qari’/qari’ah handal yang mampu menjuarai bukan saja tingkat nasional, tetapi juga tingkat internasional. Kegiatan melagukan al-Qur’an tersebut dimulai dari anak-anak usia TK, SD, SMP, SMU, sampai perguruan tinggi. Bahkan pada orang cacatpun acara semacam ini juga tidak asing lagi, seperti tuna netra dan lain sebagainya.
Al-Qur’an terjaga keasliannya sepanjang masa
Al-Qur’an al-Karim memperkenalkan dirinya dengan berbagai ciri dan sifat. Salah satunya adalah bahwa ia merupaan kitab Allah yang keotentikannya dijamin oleh Allah, dan ia adalah kitab yang selalu dipelihara. Firman Allah dalam al-Qur’an surat al-Hijr ayat 9 berbunyi:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
 Artinya:
“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar akan memeliharanya”.(Q. S. al-Hijr: 9).[18]
Demikianlah Allah menjamin keotentikan al-Qur’an, jaminan yang diberikan atas dasar Kemahakuasaan dan KemahatahuanNya, serta berkat upaya-upaya yang dilakukan oleh makhluk-makhlukNya, terutama oleh manusia.
Di samping itu, ada beberapa faktor (baca: bukti kesejarahan) pendukung atas keaslian al-Qur’an sebagaimana yang dikatakan oleh Quraish Shihab:
Pertama, masyarakat Arab yang hidup pada masa turunnya al-Qur’an, adalah masyarakat yang tidak mengenal baca tulis. Karena itu, satu-satunya andalan mereka adalah hafalan. Dalam hal hafalan, orang Arab -bahkan sampai kini- dikenal sangat kuat. Kedua, masyarakat Arab khususnya pada masa turunnya al-Qur’an- dikenal sebagai masyarakat sederhana dan bersahaja. Kesederhanaan ini menjadikan mereka memiliki waktu luang yang cukup, disamping menambah ketajaman pikiran dan hafalan. Ketiga, masyarakat Arab sangat gandrung lagi membanggakan kesusastraan; mereka bahkan melakukan perlombaan-perlombaan dalam bidang ini pada waktu tertentu. Keempat, al-Qur’an mencapai tingkat tertinggi dari segi keindahan bahasanya dan sangat mengagumkan bukan saja bagi kaum mukmin, tetapi juga orang kafir. Berbagai riwayat menyatakan bahwa tokoh-tokoh kaum musyrik seringkali secara sembunyi-sembunyi berupaya mendengarkan ayat-ayat al-Qur’an yang dibaca oleh kaum muslim. Kaum muslim, di samping mengagumi keindahan bahasa al-Qur’an, juga mengagumi kandungannya serta meyakini bahwa ayat-ayat al-Qur’an adalah petunjuk kebahagiaan dunia akhirat. Kelima, al-Qur’an, demikian pula Rasulullah SAW, menganjurkan kepada kaum muslim untuk memperbanyak membaca dan mempelajari al-Qur’an dan anjuran tersebut mendapat sambutan yang hangat. Keenam, ayat-ayat al-Qur’an yang turun berdialog dengan mereka, mengomentari keadaan dan peristiwa-peristiwa yang mereka alami, bahkan menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Di samping itu, ayat al-Qur’an turun sedikit demi sedikit. Hal itu lebih mempermudah pencernaan maknanya dan proses penghafalannya. Ketujuh, dalam al-Qur’an, demikian pula dalam hadis-hadis nabi, ditemukan petunjuk-petunjuk yang mendorong para sahabatnya untuk selalu bersikap teliti dan hati-hati dalam menyampaikan berita lebih-lebih kalau berita tersebut merupakan Firman-firman Allah atau sabda RasulNya.[19]
Dengan bukti-bukti di atas, setiap muslim percaya bahwa apa yang dibaca dan didengarnya sebagai al-Qur’an tidak berbeda sedikitpun dengan apa yang pernah dibaca oleh Rasulullah, dan yang didengar serta dibaca oleh para sahabat nabi.

[1]Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu al-Qur’an dan Tafsir  (Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, 2003), hlm. 3.
[2] H. Nasrun Haroen, Ushul Fiqh 1 (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997) hlm. 19.
[3] Ibid., hlm. 20.
[4] H.A. Mustofa, Sejarah al-Qur’an (Surabaya: al-Ikhlas, 1994), hlm. 11.
[5] Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, op.cit., hlm. 4.
[6] Ibid., hlm. 10.
[7] Harun Nasution, Islam Rasional (Bandung: Mizan, 1995), hlm. 17.
[8] Muhammad Ali ash-Shabuny, at-Tibyan fi Ulumi al-Qur’an (Jakarta: Dinamika Berkah Utama, 1985), hlm. 11.
[9] Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Bandung: CV. Penerbit J-ART, 2004), hlm. 3.
[10] Ibid., hlm. 360.
[11] Ibid., hlm. 263.
[12] Ibid., hlm. 376.
[13] Ibid., hlm. 294.
[14] Ibid., hlm. 216.
[15] Imam Abi Husain Muslim bin Hujjaj, Shahih Muslim (Beyrut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1979), Jus 1, hlm. 549-550.
[16] Ibid..
[17] Muhammad Ali ash-Shabuny, Op. Cit., hlm. 10.
[18] Depag RI, Op. cit., hlm. 263.
[19] M. Quraish Shihab, “Membumikan” Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat (Bandung: Mizan, 2003), hlm. 23-24.

No comments:

Post a Comment