Thursday, June 9, 2016

Sejarah Islam di Indonesia



BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penulisan
Perjalanan hidup manusia penuh dengan ketidaksempurnaan, ia membutuhkan contoh dan tauladan dari orang-orang sebelumnya, karena itu manusia menganggap penting untuk bercermin kepada kejadian yang telah lalu yang disebut sejarah, sebagaimana disampaikan oleh Al-Quran surat Al-Hasyru ayat 18 yang artinya : ”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
Pendidikan merupakan hal penting dalam kehidupan manusia, melalui pendidikan manusia bisa terus berkembang dalam berbagai bidang, dengan pendidikan manusia hidup lebih bermartabat, dengan pendidikan berbagai persoalan kehidupan diselesaikan, mengingat pentingnya pendidikan dalam kehidupan manusia maka akan dijelaskan bagaimana sejarah perkembangan pendidikan di Kalimantan dan Sulawesi sebagai bagian tak terpisahkan dari sejarah pendidikan di republik tercinta ini.

B. Tujuan Penulisan
Mahasiswa sebagai figur intelektual di masyarakat harus pandai bercermin pada kejadian yang telah lalu, agar dapat mengambil pelajaran dari kejadian tersebut dan tidak terjerumus pada lubang yang sama untuk yang kedua kali. Selain itu mahasisiwa Fakultas Tarbiyah sudah selayaknya mengetahui sejarah pendidikan di Indonesia, khususnya pendidikan Islam..
Melihat pentingnya hal tersebut di atas maka penulisan makalah ini didasarkan pada beberapa tujuan sebagai berikut :
1. Sebagai wahana memperluas wawasan dan pengetahuan penulis tentang Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia.
2. Sebagai bahan diskusi mata kuliah Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia (SPII) di semester 3 B Fakultas Tarbiyah Jurusan PAI Institut Agama Islam Darussalam Ciamis.
3. Semoga bisa menjadi sumbangan yang berarti bagi perkembangan keilmuan di lingkungan kampus dan masayarakat.
C. Batasan Pembahasan
Luasnya pembahasan yang berhubungan dengan Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia dan kemampuan penulis yang terbatas menjadi ispisari bagi penulis untuk membatasi pembahasan hanya menjelaskan Kerajaan Islam di Kalimantan dan Sulawesi, agar pembahasan menjadi terfokus dan mendalam.







BAB II
PEMBAHASAN

A.  KERAJAAN ISLAM DI KALIMANTAN
Di Kalimantan ada banyak kerajaan, berikut nama nama kerajaan yang ada di beberapa wilayah di Kalimantan :
1.    Kalimantan Barat : Tanjungpura, Kadriah, Pontianak, Kubu, Sintang, Mempawah, Meliau, Sambas, Sanggau, Selimbau, Sekadau, Landak, Tayan.
2.    Kalimantan Tengah : Kotawaringin.
3.    Kalimantan Selatan : Negara Daha, Banjar, Pagatan, Kusan, Sabamban, Tjingal, Sampanahan.
4.    Kalimantan Timur : Kutai Kartanegara, Kutai Martadipura, Paser, Berau, Bulungan, Sambaliung, Gunung Tabur, Tidung.
5.    Kalimantan Utara : Brunei, Sabah, Serawak, Sulu.
Di antara kerajaan-kerajaan tersebut, di sini hanya akan menjelaskan sekilas tentang kerajaan Banjar dan kerajaan Kutai Kartanegara.
1.      Kerajaan Banjar
Kerajaan ini berdiri pada tanggal 24 September 1526, Kerajaan ini berpusat di Banjarmasin dan dipindahkan ke Martapura. Kerajaan Banjar dipimpin oleh raja Islam sejak awal berdirinya, yaitu oleh Sultan Suriansyah.  Dalam pemerintahan telah ada yang dinamakan penghulu atau mufti yang kedudukannya sama dengan hakim pada saat ini tetapi berdasarkan agama Islam, ada Bujangga yang mengepalai urusan bangunan rumah agama dan rumah ibadah.
Peran kerajaan terhadap pendidikan terjadi secara tidak langsung, artinya pendidikan tidak secara langsung diselenggarakan oleh kerajaan, tetapi pemerintah mendukung terhadap upaya-upaya pendidikan yang diselenggarakan oleh para ulama, hal itu berdasarkan data bahwa kerajaan tidak mengangkat pejabat khusus yang membawahi masalah pendidikan.
2.      Kerajaan Kutai
Kerajaan Kutai Kertanegara berdiri pada awal abad ke-13 di daerah bernama Tepian Batu atau Kutai Lama. Pada abad ke-16 Kerajaan Kutai Kartanegara berhasil menaklukan Kerajaan Kutai Martadipura. Maka Kerajaan Kutai Kartanegara berubah menjadi Kutai Kartanegara Ing Martadipura.
Pengaruh Islam masuk ke kerajaan pada abad ke-17 disebarkan oleh Tuan Tunggang Parangan dan diterima dengan baik oleh kerajaan.
Penulis tidak menemukan data tertulis tentang bagaimana peran kerajaan terhadap pendidikan Islam, tetapi mengingat Islam telah masuk di Kalimantan pada abad ke-15 Hijriah, tentunya proses pendidikan telah ada di lingkungan masyarakat kutai walaupun hanya dalam bentuk halaqah-halaqah.

B.  PENDIDIKAN ISLAM DI KALIMANTAN
1.    Islam Masuk di Kalimantan
Islam pertama kali masuk di Kalimantan adalah di daerah utara tepatnya di daerah Brunai sekitar pada tahun 1500 M. Setelah raja Brunai memeluk Islam (sekitar 1520), maka Brunai menjadi pusat penyiaran agama Islam sehingga Islam sampai ke Pilipina.
Pusat penyebaran Islam yang lain adalah di Kalimantan Barat di dekat Muara Sambas. Islam masuk ke daerah ini diperkirakan pada abad XVI di bawa oleh orang-orang dari Johor, menyusul kemudian daerah Sambas ditaklukkan oleh kerajaan Johor.
Adapun masuknya Islam di Kalimantan Selatan terjadi sekitar 1550 M atas pengaruh dari Jawa. Dikatakan bahwa raja-raja di Kalimantan Selatan memeluk agama Islam setelah mendapat bantuan dari Sultan Demak.
Daerah Timur Kalimantan terdapat kerajaan Bugis yang mendapat pengaruh Islam sekitar tahun 1620 M. Islam masuk ke daerah ini melalui jalan perkawinan orang Arab dengan putri-putri raja di daerah ini.
2.    Pendidikan Islam di Kalimantan
Pendidikan Islam di Kalimantan dipelopori oleh Madrasatun Najah wal Falah yang didirikan pada tahun 1918 M, hal ini menjadi inspirasi bagi berdirinya madrasah-madrasah Ibtidaiyah dan Tsanawiyah yang lain. Diantara madrasah-madrasah tersebut adalah :
a.    Madrasah Perguruan Islam (Assulthaniah) di Sambas yang berdiri pada tahun 1922 M. Proses pembelajaran di madrasah ini selama 5 tahun ditambah 1 tahun kursus vak agama. Materi yang diajarkan adalah ilmu-ilmu agama ditambah pengetahuan umum.
b.    Madrasah Al-Raudlatul Islamiyyah berlokasi di Pontianak, didirikan pada tahun 1936 M. Madrasah ini menyelenggarakan dua tingkat pendidikan yaitu Ibtidaiyah selama 6 tahun dan Tsanawiyah selama 3 tahun. Materi yang diajarkan sama dengan madrasah lain yaitu ilmu agama ditambah ilmu umum.
c.    Sekolah Menengah Islam Pertama (SMIP) didirikan pada tanggal 15 Oktober 1946 M di Banjarmasin Kalimantan Selatan. Lama pelajarannya selama 5 tahun terdiri dari 6 kelas. Pelajaran Agama di kelas 1, 2 dan 3 sederajat dengan Tsanawiyah dan pelajaran umum sedapat-dapatnya sederajat dengan SMP Negeri.
d.    Madrasah Normal Islam Amuntai, didirikan pada tahun 1928 oleh H. Abdur Rasyid, seorang lulusan Al-Azhar Mesir dengan nama Arabische School. Pada akhir 1941 tampuk kepemimpinan dipegang oleh Ustadz M. Arif Lubis, salah satu guru di Pondok Modern Gontor Ponorogo (Madiun) dan berubah namanya menjadi Ma’had Rasyidah Amuntai. Pada tahun 1945, nama madarasah berubah menjadi sekolah guru dengan nama Normal Islam IMI Amuntai, dengan lama pelajaran selama 6 tahun dan rencana pelajarannya disesuaikan dengan hajat masyarakat.
Selain madrasah-madrasah tersebut banyak madrasah lainnya, seperti Madrasah Imad Darussalam di Martapura, Sekolah Menengah Islam di Kandangan, Madrasah Al-Ashriah di Banjarmasin dan lain-lain.
3.    Organisasi Perkumpulan Madrasah
Di kalimantan ada beberapa organisasi perkumpulan madrasah, diantaranya :
a.    Persatuan Madrasah Islam Indonesia (PERMI), didirikan di Pontianak pada tahun 1954 dengan tujuan untuk menyatukan nama madrasah dengan nama yang sederhana yaitu Madrasatul Islam Al Ibtidaiyah dan Madrasatul Islam Tsanawiyah. Tujuan lainnya adalah menyatukan bahan dan sumber pelajaran, yakni menggunakan kitab-kitab keluaran Sumatera. Permi memberi ketentuan bahwa pelajaran pada madrasah-madrasah itu terdiri dari ilmu agama, bahasa Arab dan pengetahuan umum dengan porsi pengetahuan umum sekurang-kurangnya 30%. Permi juga mempunyai tujuan untuk menyatukan madrasah-madrasah dalam organisasi ini.
b.    Ikatan Madrasah Islam (IMI) Amuntai, didirikan pada tanggal 15 Maret 1945 dengan tujuan menciptakan adanya pendidikan dan pengajaran Islam, memperluas berdirinya perguruan tinggi Islam dan memperbaiki organisasi dan leerplan perguruan-perguruan Islam yang telah ada agar sesuai dengan hajat hidup orang banyak. Untuk mencapai tujuan tersebut IMI melakukan rapat-rapat dengan guru-guru dan pendidik-pendidik Islam, mendirikan perguruan-perguruan Islam jika memungkinkan, menggabungkan perguruan-perguruan Islam menjadi satu serta memberikan arahan-arahan kepada perguruan-perguruan Islam tentang pendidikan, pengajaran dan organisasi.

 

Sejarah Islam di Pulau Kalimantan

Para ulama yang berdakwah di Sumatera dan Jawa melahirkan kader-kader dakwah yang terus menerus mengalir sehingga inilah awal dari masuknya islam di kalimantan. Islam masuk ke Kalimantan atau yang lebih dikenal dengan Borneo kala itu melalui dua jalur.

Jalur pertama yang membawa Islam masuk ke tanah Borneo adalah jalur Malaka yang dikenal sebagai Kerajaan Islam setelah Perlak dan Pasai. Jatuhnya Malaka ke tangan penjajah Portugis kian membuat dakwah semakin menyebar. Para mubaligh-mubaligh dan komunitas Islam kebanyakan mendiami pesisir Barat Kalimantan.

Jalur lain yang digunakan menyebarkan dakwah Islam adalah para mubaligh yang dikirim dari Tanah
Jawa. Ekspedisi dakwah ke Kalimantan ini menemui puncaknya saat Kerajaan Demak berdiri. Demak mengirimkan banyak mubaligh ke negeri ini. Perjalanan dakwah pula yang akhirnya melahirkan Kerajaan Islam Banjar dengan ulama-ulamanya yang besar, salah satunya adalah Syekh Muhammad Arsyad al Banjari.

Di Kalimantan Selatan terutama sejak abad ke-14 sampai awal abad ke-16 yakni sebelum terbentuknya Kerajaan Banjar yang berorientasikan Islam, telah terjadi proses pembentukan negara dalam dua fase. Fase pertama yang disebut Negara Suku (etnic state) yang diwakili oleh Negara Nan Sarunai milik orang Maanyan. Fase kedua adalah negara awal (early state) yang diwakili oleh Negara Dipa dan Negara Daha. Terbentuknya Negara Dipa dan Negara
Daha menandai zaman klasik di Kalimantan Selatan. Negara Daha akhirnya lenyap seiring dengan terjadinya pergolakan istana, sementara lslam mulai masuk dan berkembang disamping kepercayaan lama. Zaman Baru ditandai dengan lenyapnya Kerajaan Negara Daha beralih ke periode negara kerajaan (kingdom state) dengan lahirnya kerajaan baru, yaitu Kerajaan Banjar pada tahun 1526 yang menjadikan Islam sebagai dasar dan agama resmi kerajaan.

Zaman keemasan Kerajaan Banjar terjadi pada abad ke-17 hingga abad ke-18. Pada masa itu terjadi puncak perkembangan Islam di Kalimantan Selatan sebagaimana ditandai oleh lahirnya Ulama-ulama Urang Banjar yang terkenal dan hasil karya tulisnya menjadi bahan bacaan dan rujukan di berbagai negara, antara lain Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari
Berbeda dengan Muhammad Arsyad yang menjadi perintis pusat pendidikan Islam, Muhammad Nafis mencemplungkan dirinya dalam usaha penyebar-luasan Islam di wilayah pedalaman Kalimantan. Dia memerankan dirinya sebagai ulama sufi kelana yang khas, keluar-masuk hutan menyebarkan ajaran Allah dan Rasul-Nya. Dan oleh karena itu beliau memainkan peranan penting dalam mengembangkan Islam di Kalimantan.

Islam masuk Kalimantan Selatan lebih belakangan ketimbang misalnya, Sumatera Utara dan Aceh. Seperti diungkapkan Azra, diperkirakan pada awal abad ke-16 sudah ada sejumlah muslim di sini, tetapi Islam baru mencapai momentumnya setelah pasukan Kesultanan Demak datang ke Banjarmasin untuk membantu Pangeran Samudra dalam perjuangannya melawan kalangan elite di Kerajaan Daha. Setelah kemenangannya, Pangeran Samudra beralih memeluk Islam pada sekitar tahun 936/1526, dan diangkat sebagai sultan pertama di Kesultanan Banjar. Dia diberi gelar Sultan Suriansyah atau Surian Allah oleh seorang da’i Arab. Dengan berdirinya Kesultanan Banjar, otomatis Islam dianggap sebagai agama resmi negara.

Namun demikian, kaum muslimin hanya merupakan kelompok minoritas di kalangan penduduk. Para pemeluk Islam, umumnya hanya terbatas pada orang-orang Melayu.
Islam hanya mampu masuk secara sangat perlahan di kalangan suku Dayak. Bahkan di kalangan kaum Muslim Melayu, kepatuhan kepada ajaran Islam boleh dibilang minim dan tidak lebih dari sekadar pengucapan dua kalimah syahadat.
Di bawah para sultan yang turun-temurun hingga masa Muhammad Arsyad dan Muhammad Nafis, tidak ada upaya yang serius dari kalangan istana untuk menyebarluaskan Islam secara intensif di kalangan penduduk Kalimantan.

Karena itu, tidak berlebih jika Muhammad Nafis dan terlebih Muhammad Arsyad Al-Banjari merupakan tokoh penting dalam proses Islamisasi lebih lanjut di Kalimantan. Dua orang ini pula yang memperkenalkan gagasan-gagasan keagamaan baru di Kalimantan Selatan.
Pengembangan Islam di Kutai dilakukan oleh dua orang muslim dari makassar yang bernama Tuan di Bandang dan Tuan Tunggang Parangan, dengan cepat islam berkembang di Kutai, termasuk raja mahkota memeluk islam. Kemudian pengembangan islam dilanjutkan ke daerah-daerah pedalaman pada pemerintahan Aji di Langgar. Pada tahun 1550 M, di Sukadan (Kalimantan Barat) telah berdiri kerajaan islam. Ini berarti jauh sebelum tahun itu rakyat telah memeluk agama islam, Adapun yang meng-islamkan daerah Sukadana adalah orang Arab islam yang datang dari Sriwijaya. Di Sukadana Sultan yang masuk islam adalah Panembahan Giri Kusuma (1591) dan Sultan Hammad Saifuddin (1677).

Perkembangan Islam di Kalimantan


Ketika perebutan kekuasaan pada Kerajaan negara Daka di Kalimantan Selatan, R.Samudera merasa ia lebih berhak menjadi raja dari Pangeran Tumenggung. Akhirnya timbul pertentangan dan perang saudara. R.Samudera meminta bantuan dari kerajaan Islam Demak dan ia menang dan dapat berkuasa memegang puccuk pimpinan kerajaan di Daha yang ada di Banjarmasin pada tahun 1550. R.Samudera memeluk agama Islam dan bergelar Suryanullah. Dengan Islamnya raja Suryanullah maka rakyat pun banyak yang memeluk agama Islam. Daerah-daerah lain pun banyak yang menyatakan masuk Islam.

Bantuan yang diberikan kerajaan Demak kepada R.Samudera juga mengandung tipuan membendung pengaruh Portugis yang telah menguasai Malaka. Mereka ingin menguasai daerah jalur perniagaan dan pelayaran di Indonesia.

Demak juga mengirimkan guru-guru agama yang mengajarkan tentang agama Islam kepada raja-raja Banjar. Akhirnya Islam tersebar luas di kalangan rakyat di sana.

Kerajaan Kutai yang menganut agama Hindu, sekitar abad 16 Islam masuk ke sana. Pembawa Islam ke Kutai adalah Muslim dari
Makasar yang terkenal Tuan di Bandung dan Tun Tunggang Parangan. Atas ketentuan dan usaha kedua mubaligh itu, raja Kutai menyatakan diri memeluk agama Islam.

Islam masuk ke Kutai + 1575M. Setelah raja memeluk Islam dan rakyat pun telah banyak yang masuk Islam. Sebagian penduduk pedalaman masih banyak yang memeluk kepercayaan Animisme dan Dinamisme. Sejak raja Aji di Langgar naik tahta, ia giat menyiarkan Islam ke daerah pedalaman. Usha ini diteruskan oleh pengganti-pengantinya. Agama Islam didpeluk sampai ke daerah Mura Kaman.

Kerajaan
Brunai pada abad 15 diperintah oleh Maharaja Kali yang beragama Islam. Raja Kali berkunjung ke negri Cina menemui Kaisar Cheng-Ho. Jauh sebelum abad 15 Islam telah dianut di Brunai. Sultan Brunai menyiarkan agama Islam ke daerah Mindano Filipina.

sumber :
-http://id.shvoong.com/humanities/history/2279821-perkembangan-islam-di-kalimantan/
-enggenggam-malam.blogspot.com/2013/02/sejarah-islam-di-kalimantan.html


Sejarah masuknya Islam di Kalimantan barat - Menurut pendapat yang dikemukakan oleh Sendam, 1970:35, “Islam Masuk di Kalimantan Barat yaitu sekitar abad ke 15 M, melalui perdagangan dan tidak melalui organisasi misi, tetapi merupakan kegiatan perorangan”. Ada dua proses berlangsungnya penyebaran Islam. Pertama penduduk pribumi berhubungan dengan agama Islam, kemudian menganutnya. Kedua, orang-orang asing Asia (Arab,India, Cina dan lain-lain) yang telah memeluk agama Islam dan bertempat tinggal secara permanen di suatu wilayah kemudian melakukan perkawinan campuran dan menjadi anggota masyarakat lainnya. Seperti pada kerajaan Tanjungpura, Sambas, Mempawah, Kubu, Pontianak dan lain sebagainya.

Ada beberapa hal yang membuat Islam dapat dengan mudah untuk diterima oleh masyarakat dan menyebar luas sampai kedaerah-daerah pedalaman. Adapun faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut:

1.Melalui perkawinan
Dimana adanya perkawinan campuran yang dilakukan oleh orang muslim dengan orang non-muslim. Adanya perkawinan campuran ini juga dapat dilihat pada kerajaan Pontianak yang rajanya Syarief Abdurrahman Al-Kadri menikah dengan Nya’I Tua putri Dayak kerajaan Matan.

2.Melalui perdagangan
Mayoritas penduduk Kalbar tinggal di daerah pesisir sungai atau pantai. Islam disebar luaskan dan berkembang melalui kegiatan perdagangan mulanya di kawasan pantai seperti Kota Pontianak, Ketapang, atau Sambas, kemudian menyebar kearah perhuluan sungai (Yusriadi,dkk 2005:2).

3.Melalui dakwah
Adapun nama-nama mubaligh dan guru agama yang terlibat dalam menyebarkan agama Islam di Kalbar tersebut pada awal abad ke-20 menurut Mohd Malik (1985:48) diantaranya adalah Haji Mustafa dari Banjar (1917-1918), Syeh Abdurrahman dari Taif, Madinah (1926-1932), Haji Abdul Hamid dari Palembang (1932-1937), Sulaiman dari Nangah Pinoh (1940-?), dan Haji Ahmad asal Jongkong (sekarang). Para guru agama ini mengajarkan membaca Al-Quran, fiqh dan lain-lain, dirumah dan juga di mesjid. Dalam pengajaran membaca Al-Qur’an mereka menggunakan metode Baqdadiyah (Yusriadi,dkk 2005:5).

4.Melalui Kekuasaan (otoriter)
Islamisasi ini terjadi pada masa Sultan Aman di kerajaan Sintang. Pada massa ini beliau melakukan perperangan kepada siapa saja yang tidak mau masuk Islam. Tercatat raja-raja kerajaan Silat, Suhaid, Jongkong, Selimbau dan Bunut diperangi karena tidak mau masuk Islam. Setelah raja-raja tersebut dapat ditaklukan dan menyatakan diri memeluk Islam, mereka diharuskan berjanji untuk tidak ingkar. Bagi yang melanggar akan dihukum mati. Hal ini mungkin agak unik dibandingkan dengan Islamisasi yang terjadi diwilayah lain yang rata-rata disiarkan secara damai (Hermansyah, dkk 2005:10).

5.Melalui Kesenian
Islam disebarkan kepada masyarakat Kalbar juga melalui kesenian tradisional. Ini dapat kita lihat pada masyarakat di Cupang Gading. Sastra tradisional yang ada di Cupang Gading memperlihatkan adanya nilai-nilai keislaman. Dengan mengkolaborasikan antara nilai Islam dengan nilai kesenian ini memberikan kemudahan dalam menyebarkan Islam itu sendiri. Berpadunya  nilai lokal dengan  Islam dapat dilihat melalui prosa rakyat yang dikenal dengan istilah bekesah dan melalui puisi tradisional, seperti pantun, mantra, dan syair (Dedy Ary Asfar,dkk 2003: 46).Selain itu Islam juga disebarkan melalui kesenian Jepin Lembut yang ada didaerah Sambas. Dengan berbagai macam kesenian inilah yang kemudian  dijadikan media dakwah dalam menyebarkan Islam di Kalbar.

Di Kalimantan Barat daerah yang pertama kali mendapat sentuhan agama Islam adalah Pontianak, Matan dan Mempawah yang diperkirakan antara tahun 1741, 1743 dan 1750. Menurut salah satu versi pembawa islam pertama bernama Syarief Husein, seorang Arab atau dengan nama lain beliau Syarif Abdurrahman al-Kadri, putra dari Svarif Husein. Diceritakan bahwa Syarief Abdurrahman Al-Kadri adalah putra asli Kalimantan Barat. Ayahnya Sayyid Habib Husein al-Kadri, seorang keturunan Arab yang telah menjadi warga Matan. Ibunya bernama Nyai Tua, seorang putri Dayak yang telah menganut agama Islam, putri Kerajaan Matan. Syarif Abdurrahman al-Kadri lahir di Matan tanggal 15 Rabiul Awal 1151 H (1739 M). Jadi ia merupakan keturunan Arab dan Dayak dan Ayahnya Syarief Husein (Ada yang menyebutnya Habib Husein) menjadi Ulama terkenal di Kerajaan Matan hampir selama 20 tahun.
Menurut keterangan di atas tampak bahwa islam masuk di Kalimantan Barat dibawa oleh juru dakwah dari Negeri Arab. Ini sejalan dengan teori beberapa sejarawan Belanda diantaranya Crawford (1820), Keyzar (1859), Neiman (1861), de Hollander (1861), dan Verth (1878). Menurut mereka penyiar Islam di Indonesia (Nusantara) berasal dari arab, tepatnya dari Hadramat, Yaman. Teori ini didukung pula oleh sejarawan dan ulama Indonesia modern, seperti Hamka, Ali Hasyim, Muhammad Said dan Syed Muhammad Naquib a( atlas (Malaysia).

Islam di Kalimantan Barat berjalan secara alami Habib Husein al-Kadri sebagai juru dakwah pertama, dilanjutkan oleh putranya Syarif Abdurrahman al-kadri bersama para kader dakwah lainnya. Disebut alami disini karena selain tugas dakwah dijalankan, aktivitas ekonomis juga digerakkan sehingga para juru dakwah perintis ini memiliki kekuatan ekonomi yang kuat. Dengan kekuatan ekonomi ini pula dakwah menjadi semakin berhasil, ditambah relasi yang luas dengan para pedagang lainnya. Walaupun bagi Kalimantan barat, datangnya Islam yang dibawa oleh Syarif Husein al­Kadri, Kalimantan barat bukan merupakan daerah pertama yang didatanginya. Dan rentetan kronologi sampai akhirnya beliau menetap dan memusatkan  dakwah di Kalimantan Barat.

Beliau sendiri lahir tahun 1118 H di Trim Hadramat Arabia. Tahun 1142 H setelah menamatkan pendidikan agama yang memadai, atas saran gurunya berangkat menuju negeri-negeri timur bersama tiga orang kawannya untuk mendakwah islam. Tahun 1145 H mulanya mereka tiba di Aceh. Sambil berdagang mereka mengajarkan Islam disana. Lalu perjalanan di lanjutkan ke Betawi (Jakarta) sedangkan temannya Sayyid Abubakar Alaydrus menetap di Aceh, Sayyid Umar Bachasan Assegaf berlayar ke Siak dan Sayyid Muhammad bin Ahmad al-Quraisy ke Trenggano. Syarif Husein al-kadri tingggal di betawi selama 7 bulan, kemudian di Semarang selama 2 tahun bersama Syekh Salam Hanbali. Tahun 1149 beliau berlayar dari Semarang ke Matan (ketapang) Kalimantan Barat dan diterima di Kerajaan Matan.

Seiring dengan usaha dakwahnya, penganut Islam semakin bertambah dan Islam memasyarakat sampai ke daerah pedalaman. Maka antara Tahun 1704-1755 M ia diangkat sebagai Mufti (hakim Agama Islam) dikerajaan Matan. Selepas tugas sebagai Mufti, beliau sekeluarga diminta oleh raja Mempawah Opo Daeng Menambun untuk pindah ke Mempewah dan mengajar agama disana sampai kemudian diangkat menjadi Tuan Besar Kerajaan Mempewah, sampai wafatnya tahun 1184 dalam usia 84 tahun.
Mulanya Syarif Husein menetap di Matan (Ketapang) dan berdakwah disana. Ia mendapatkan respon yang sangat baik sehingga penganut Islam semakin banyak dan Islam memasyarakat sampai kepedalaman. Maka antara Tahun 1704-1755 M Ia diangkat sebagai Mufti (hakim Agama Islam) dikerajaan Matan. Selepas tugas sebagai Mufti, beliau sekeluarga diminta oleh raja Mempawah Opo Daeng Menambun untuk pindah ke Mempawah dan mengajar agama disana sampai kemudian diangkat menjadi Tuan Besar Kerajaan Mempawah, sampai wafatnya tahun 1184 dalam usia 84 tahun. (Anshar Rahman, 2000:5-6). Syarif Husein tidak hanya menyebar Islam dikalangan rakyat jelata, Ia juga menyebarkan kekalangan bangsawan. Salah satu cara yang ditempuh beliau dalam menyebarkan Agama Islam adalah dengan melakukan perkawinan dengan putri-putri bangsawan. Beliau menikahi 3 orang putri yang berasal dari kerajaan Matan, dan mereka ini berasal dari suku Dayak. (Anshar Rahmat, 2000:25)

Pendapat lain mengatakan bahwa Islam masuk ke Kalbar pada abad ke 15 di pelabuhan Ketapang (Sukadana) melalui perdagangan. Penyebaran agama Islam di Kalimantan Barat membujur dari Selatan ke Utara, meliputi daerah Ketapang, Sambas, Mempawah, Landak. Menurut Safarudin Usman bahwa Islam mulai menyebar di Kalimantan Barat diperkirakan sekitar abad XVI Miladiah, penyebaran Islam terjadi ketika kerajaan Sukadana atau lebih dikenal dengan kerajaan Tanjungpura dengan penembahan Barukh pada masa itu di Sukadana agama Islam mulai diterima masyarakat (Ikhsan dalam Usman 1996:3), akan tetapi Barukh tidak menganut agama Islam sampai wafat 1590 M.

Selain itu ada pendapat yang mengemukakan pada tahun 1470 Miladiah sudah ada kerajaan yang memeluk agama Islam yaitu Landak dengan rajanya Raden Abdul Kahar (Usman,1996:4) Dimasa pemerintahan Raden Abdul Kahar (Iswaramahaya atau Raja Dipati Karang Tanjung Tua) beliau telah memeluk agama Islam sehingga dapat dikatakan berawal dari kerajaan Landak.

Berbagai pendapat yang telah dikemukakan di atas bisa diperkirakan, bahwa agama Islam masuk di Kalimantan Barat pada  masa pemerintahan Barukh (1538-1550). Dari riwayat kerajaan Landak diperoleh keterangan bahwa agama Islam di bawah pemerintahan Kerajaan Ismahayana, yang bergelar Raja Dipati Tanjung Tua (1472-1542), agama Islam mulai berkembang di kerajaan Landak (Sendam, dalam Ajisman:1998). Mengingat kerajaan Matan dan Landak yang masuk diperkirakan pada abad ke 15 maka kerajaan Sintang yang berada dipedalaman sekitar akhir abad ke 16. Penyebaran yang pertama-tama kemungkinan dari para pedangang Semenanjung Melayu, terutama pedagang dari Johor. (Dalam Ikhan:2004:95).

Sahzaman berpendapat bahwa agama Islam masuk di Kalimantan Barat melalui selat Karimata menuju kerajaan Tanjungpura yang memang sudah ada sejak abad ke XIII. Kerajaan Sambas pada masa Raden Sulaiman  putra Raja Tengah dari kerajaan Brunei  (Ajisman 1998:24)

Dalam buku Sejarah Kodam XIII Tanjungpura Kalimantan Barat yang diterbitkan oleh Sendam Tanjungpura menyebutkan masuknya agama Islam di Kalimantan Barat pada abad ke 16 Ketika kerajaan Hindu Sukadana dipimpin rajanya penembahan Barukh, pada saat yang sama penembahan Barukh membangun kota Baruk yaitu Matan (Ajisman:1998:25)

Kerajaan Tanjungpura menjadi salah satu ciri kerajaan Islam, jauh sebelumnya sudah pernah ada komunikasi antara masyarakat dikerajaan Tanjungpura dengan para pedagang dari Arab, bentuk-bentuk peningalan yang masih bayak terdapat di daerah Kabupaten Ketapang, baik yang bersifat tangible maupun intangible hal itu masih bisa dijumpai sampai saat ini. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Balar Arkeologi dari Banjarbaru Kalimantan Selatan bahwa peninggalan makam keramat tujuh maupun keramat sembilan diperkirakan pada abad ke-15 akan tetapi jauh sebelumnya sudah ada kehidupan Islam di daerah Benua Lama, karena juga ditemukan nisan didalam dasar tanah berdiri kokoh dan relief yang bercorak Arab di wilayah Kabupaten Ketapang  Kalimantan Barat.

Umat Islam menjadi mayoritas ketika berdirinya kerajaan Pontianak pada tahun 1771 Miladiah. Kesultanan Pontianak dengan rajanya Sultan Syarif Abdurahman  Al Qadrie adalah putra Syarif Husin Al Qadrie yang menjadi salah seorang penyebar agama Islam di Kalimantan Barat, kehadiran kesultanan yang bercorak Islam masih membawa pengaruh adat istiadat bangsa Nusantara yang dinamakan pengaruh Jawa pra Islam. Salah satu pengaruh kuat adalah percampuran budaya Timur Tengah dengan budaya jawa Pra Islam. Sekitar tahun 1733 Syarif Husin bin Ahmad Al Qadrie seorang ulama dari negeri Trim Ar-Ridha Hadralmaut (Timur Tengah) datang ke kerajaan Matan untuk menyebarkan agama Islam, kemudian di angkat sebagai penasehat raja, akan tetapi jabatan tidak begitu lama dikarenakan ada perselisihan paham tentang hukuman terhadap nakhoda tidak disetujui oleh Syarif Husein kemudian pindah kekerajaan Mempawah.

Di Daerah Kampung Kapur terdapat seorang guru ngaji yang bernama Djafar pada jaman tersebut beliau salah seorang yang termasyhur, sultan Pontianak Syarif Muhammad Al-Qadrie mengundang Djafar khusus menjadi guru ngaji dilingkungan Keraton Kadriyah Pontianak (Usmandkk:1997).
Ustazd Djafar yang kelak menurunkan anak yang bernama Kurdi Djafar  dikenal pendiri cabang Muhammadiyah di Sungai Bakau Kecil di Mempawah dan salah seorang putranya Mawardi Djafar seorang tokoh Muhammadiyah yang ada di Pontianak (dalam Iksan wawancara H.Rahim Jafar)
Islam di Kalimantan Barat tidak saja disebarkan dikalangan masyarakat grassproots (akar rumput) atau rakyat jelata, tetapi juga dikalangan bangsawan. Cara yang digunakan pada awalnya adalah dengan, mengawini putri-putri bangsawan. Syarif Husein mulanya kawin dengan Nyai tua seorang putri keluarga kerajaan Matan. Belakangan beliau juga kawin dengan Nyai tengah dan Nyai Bungsu juga dari lingkungan kerajaan Matan. Dari Nyai Tua lahir Syarif Abdurrlhnrm Al-Kadri yang belakangnya menjadi pendiri Kesultanan Pontianak, Dari Nyai Tengah ia memiliki tiga anak, yaitu Syarifah Aisyah Syarif Abu Baikar dan Syarif Muhammad. Sedangkan dari Nyai Bungsu memperoleh tiga anak pula, yaitu Syarif Ahmad, Svarifah Marjanaj, Syarifah Noor. Ketiga istrinya itu bersaudara, namun dikawini secara ganti tikar setelah istri yang ada meninggal.

Melihat sepak terjang Syarif Husein diatas, tampak beliau membangun kekuatan dakwah. selain politik dengan mendekati keluarga Kerajaan yaitu mengawini putri-putri bangsawan Kerajaan dayak yang sudah masuk Islam. Cara seperti ini memang banyak dilakukan para Ulama terdahulu, seperti para Ulama Walisongo dijawa dan Ulama besar Kalimantan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Dikalangan Ulama Walisongo tercatat diantaranya Sunan Bonang adalah putra Sunan Ampel dari hasil perkawinannya dengan Dewi Candrawati putri Brawijaya Kertabumi, cucu raja Majapahit. Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari pernah kawin dengan Bajut (istri pertama) seorang putri Istana. Istri beliau yang lain, Ratu Aminah putri Pangeran Toha bin Sultan Tahmidillah, raja Banjar Islam yang ke-16 tampak disini, pintu perkawinan merupakan cara ampuh untuk mendekati lembaga kekuasaan. Terbukti kemudian Syarif Husein diangkat sebagai Mufti di Kerajaan Matan. Dan hal sama juga Syekh Muhammad Arsyad diangkat menjadi mufti dikerajaan Banjar. Pengangkatan tersebut tentu saja tidak semata karena adanya pertalian darah melalui perkawinan, tetapi didukung oleh keutamaan mereka juga.

Hal sama dilakukan oleh putra Syarif Husein, yaitu Syarif Abdurrahman al­Kadri. Ketika ayahnya diminta oleh Raja Mempawah Opo Daeng Menambun untuk pindah ke Mempawah dan diangkat untuk menjadi tuan Besar Mempawah, Abdurrahman dikawinkan dengan Utin Candra Midi, putri Raja Opu Daeng Menambun. Jadi ada keberlanjutan pertalian darah antara darah Ulama dengan darah raja. Pertalian inilah yang membuat posisi Syarif Husein dan Syarif Abdurrahman Al­Kadri beserta keturunannya semakin kuat.

Sebelum memperkuat karir politiknya, Syarif Abdurrahman Al-Kadri menjadi pedagang antar pulau. Sebagai mana disebutkan terdahulu ia memiliki armada dagang yang dilengkapi persenjataan di laut. Pernyataan ini seolah bertentagan dengan pernyataan terdahulu bahwa para pedagang Arab tidak tertair menggunakan senjata, dalam berdakwah. Sebenarnya tidak ada yang bertentangan dalam hal ini. Senjata yang digunakan oleh Syarif Abdurrahman al-Kadri adalah untuk mengawal armada dagangnya, sebab saat itu sudah terjadi persaingan antar kapal dagang, terutama kapal dagang asing dan juga untuk mengantisipasi serangan perompak laut (bajak laut). Kemungkinan besar angkatan bersenjata yang mengawal armada dagangnya tidak semata miliknya tetapi juga dibantu oleh Kerajaan Matan dan Kerajaan Mempawah yang sudah Islam ketika itu. Jadi Senjata bukan untuk dakwah, hanya mengawal dagang.

Setelah Syarif Abdurrahman Al-Kadri mengurangi aktifitas dagangnya. ia kemudian lebih memfokuskan untuk mendirikan suatu kerajaan atau kesultanan Islam. Mulanya tahun 1185 H (1771 M) ia meninggalkan Mempawah menuju Pontianak. Setelah 4 hari berlayar disungai Kapuas, rombongannya mendarat di Istana Kadriah yang sekarang dinamai Pontianak. Di sini ia membangun perumahan dan balai serta masjid. Di tahun yang sama ia balik ke Mempawah untuk membawa serta keluarga dan mengambil armada Tiang Sambung ke Pontianak.

Tahun 1777 dengan dibantu Raja Haji dari Riau, ia berlayar ke Tayan dan Sanggau untuk menaklukkannya dibawah kekuasaan Pontianak Selanjutnya tahun 1778 dengan dihadiri oleh para sultan dan penambahan dari Landang. simpang, Sukadana, Malay dan Mempawah, raja haji mengangkat dan menobatkan Syarif Abdurrahman al-Kadri menjadi Sultan dari kesultanan Pontianak. Setelah itu kesultanan Pontianak terus menguat dan menguasai Mempawah, Sambas, dll, baik dengan jalan perang maupun damai. Setelah Sultan Syarif Abdurrahman AI-Kadri wafat tahun 1808 M, berturut-turut sejumlah sultan keturunannya berkuasa di Kesultanan Pontianak, yaitu:

Sultan Syarif Kasim Al-Kadri (1808-1819)
Sultan Syarif Usman AI-Kadri (1819-18SS)
Sultan Syarif Hamid Al-Kadri (1855-1872)
Sultan Syarif Yusuf Al-Kadri (1872-1895)
Sultan Syarif Muhammad Al-Kadri (185-1944)
Sultan Syarif Thaha Al-Kadri (1944-1945)
Sultan Syarif Hamid Al-Kadri (Sultan Hamid), (1945-1950)

Adanya Kesultanan Pontianak yang dibangun oleh Sultan Syarif Abdurrahman Al-Kadri, putra Syarif Husein al-Kadri ini menarik untuk dikomentari. Sebelumnya disebutkan pedagang Arab atau Ulama asal Arab yang datang ke Indonesia tidak teriarik untuk membangun kekuatan Politik (political power) dengan cara mendirikan kerajaan sendiri yang dikuasai oleh keturunan Arab. Mereka lebih senang menjadi Ulama yang bersekutu dengan pihak kerajaan. Itu sebabnva tidak banyak diketahui orang Arab atau keturunan Arab yang menjadi pengusaha di Nusantara. Dari sedikit itu tercatat misalnya Fatahillah (Syarif Hidayatullah) yang berkuasa di Banten dan berhasil mengusir Poriugis dari Sunda Kelapa (Jayakarta) menguasainya. sehingga ia dianggap sebagai pendiri kota Jayakarta atau Jakarta sekarang, dan namanya diabadikan sebagai nama Universitas Islam negeri (UIN/ sebelumnya IAIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Mengapa Syarif Abdurrahman AI-Kadri tertarik terjun kedua politik dan selanjutnya menjadi sultan Pontianak Pertama, ini tidak terpisahkan dari darah yang mengalir pada dirinya. Walaupun ayahnya yarif Husin seorang Ulama Besar yang pernah diangkat menjadi Mufti dan tuan besar dan Syarif Abdurrahman pun diberikan pendidikan agama yang kuat oleh ayahnya, amun pada diri Syarif al-Kadri juga mengalir darah bangsawan kerajaan, sebab ibunya (Nyai Tua) adalah putri raja Matan, dan istrinya sendiri (Utin Chandra Midi) adalah putri raja Mempawah. Patutu juga dicatat, salah satu istri Syarif Abdurrahman AI-Kadri adalah ratu Syacharanom, putri dari kerajaan banjar, sehingga is sempat digelari Pangeran Syarif Abdurrahman Nur Alam.

Dalam keadaan mengalir darah raja dan banyak bergaul dengan lingkungan kerajaan, bahkan kawin dengan putri-putri raja dapat dimaklumi jika Syarif Abdurrahman AI-Kadri punya naluri berkuasa yang besar sehingga berhasil membangun kesultanan Pontianak yang sangat besarnya dalam mengembangkan Islam di Kalimantan Barat.

Pilihan politik ini, walaupun sepintas menyimpang dari tradisi orang Arab dan keturunannya di Indonesia yang lebih tertarik berdagang dan berdakwah, namun pilihan itu tidak dapat dikatakan salah. Dengan memiliki power politik sesudah power ekonomi melalui keberhasilan berdagang, agama Islam akan semakin berkembang dan memiliki kekuatan politik di Kalimantan Barat. Sebab dakwah Islam atau agama Islam akan kuat apabila ditopang oleh kekuasaan dan ekonomi.

Lagi pula kekuasaan Syarif Abdurrahman Al-Kadri bukan semata karena ambisi politiknya, tetapi juga didukung oleh para Sultan dari kerajaan lain, juga dukungan rakyat. Salah satu kekuatan politik Kesultanan Pontianak adalah adanya toleransi beragama yang tinggi. Kepercayaan agama lain diluar Islam seperti Animisme, Khonghucu, dll, tetap dihormati. sehingga tidak terjadi konflik antaragama atau hal-hal negative lainnya. Bahkan di Kalimantan Barat bukan hal aneh bila mesti berdampingan atau berdekatan letaknya dengan klenteng, balai slot Dayak, dll. Adanya toleransi yang tinggi ini, membuat masyarakat non muslim tidak berkeberatan dikuasai oleh Kesultanan Pontianak yang Islam.
Kerajaan-kerajaan Islam yang ada di Kalimantan barat

1. Keraton Kadriah Pontianak
Umat Islam menjadi mayoritas ketika berdirinya kerajaan Pontianak pada tahun 1771 Miladiah. Kesultanan Pontianak dengan rajanya Sultan Syarif Abdurahman Al Qadrie adalah putra Syarif Husin Al Qadrie yang menjadi salah seorang penyebar agama Islam di Kalimantan Barat. Kawasan sekitar pusat pemerintahan kesultanan Pontianak yang terletak dipinggiran Sugai Kapuas, Kampung Kapur, Kampung Bansir, kampung Banjar Serasan dan Kampung Saigon sangat kental pengaruh agama Islam. Daerah Kampung Kapur terdapat seorang guru ngaji yang bernama Djafar pada jaman tersebut beliau salah seorang yang termasyhur, sultan Pontianak Syarif Abdurrahman Al-Qadrie mengundang Djafar khusus menjadi guru ngaji dilingkungan Keraton Kadriyah Pontianak (Usman dkk:1997).

2.    Kerajaan Jongkong (Embau)
Pada awalnya pendidikan dikerajaan ini didapatkan dari adanya pendakwah-pendakwah yang datang dari luar. Namun, kemudian untuk perkembangan Islam selanjutnya H. Ahmad dan teman-temannya membuka madrasah yang diberi nama Hidayatul Mustaqim pada tanggal 9 November 1946, selain itu ada juga pengajian keliling.(Hermansyah,dkk 2003:13) Sebelum H. Ahmad masyarakat pendapatkan pengajaran dari mubaligh dan guru-guru agama yang mengajarkan Al-Qur,an, fiqh, di rumah dan di mesjid (Yusriadi,dkk 2003:5). Para pengajar agama juga berupaya menyepadukan ajaran Islam dengan kepercayaan lama yang berkembang di masyarakat (Hermansyah:2003)

3.    Kerajaan Sambas
Pendidikan Islam di kerajaan Sambas dapat dilihat dari dua tahap sebagai berikut:
Tahap pertama, yaitu pendidikan dilingkungan keluarga. Pendidikan dilingkungan keluarga diberikan dalam bentuk pelajaran membaca Al-Qur’an. Pendidikan seperti ini diberikan kepada anak dari sejak dini bagi anak-anak berumur 5-10 tahun. Kegiatan yang biasa disebut “mengaji” ini dilakukan  secara berkelompok dirumah guru ngaji. Mula-mula anak di ajari membaca huruf Hijaiyyah dengan cara mengeja satu demi satu huruf kemudian merangkainya dengan kata sehingga terbentuk satu kesatuan kalimat. Apabila huruf-huruf ini telah dikenal barulah pindah membaca Jus Amma, yaitu jus ke-30 yang dibukukan tersendiri dan disebut juga Al-Qur’an kecil. Bagi anak yang sudah lancar membaca dan telah tamat Juz Amma, guru ngaji biasanya menyelenggarakan upacara penamatan yang disebut Khataman Al-Qur’an. Pada saat acara Khataman Al-Qur,an orang tua murid ngaji masing-masing mengantarkan hadiah berupa beras, kelapa, dan kain kepada guru ngaji. Besar kecilnya pemberian dan upacara  tergantung pada kemampuan orang tua murid (Erwin,dkk 2005:18).

Jika anak telah tamat Al-Qur’an Kecil, selanjutnya anak pindah untuk membaca Al-Qur’an Besar. Prosesi pengajaran Al-Qur’an besar, pertama-tama guru membimbing sekali atau dua kali, lalu anak mengulangnya beberapa kali sampai lancar. Pengetahuan membaca seperti ini ditingkatkan dengan memberikan pengetahuan seni membaca. Akhirnya, anak mampu membaca sendiri tanpa pembimbing. Disamping membaca anak-anak juga diberikan ilmu tajwid. Waktu yang diperlukan untuk menamatkan seluruh bacaan tidak ditentukan tergantung kemampuan membaca setiap anak. Namun, rata-rata mereka dapat menamatkan bacaan Al-Qur’an antara 6-12 bulan (Erwin, dkk 2005:19).

Tahap kedua, pada tahap ini adanya pengakuan anggota masyarakat atau lingkungan masyarakat terhadap kealiman dan keshalehan seorang ustad atau syekh, sehingga anggota masyarakat mengirimkan anaknya untuk memperdalam ilmu. Pada tahap ini anak-anak yang telah meningkat remaja diajari dasar-dasar ilmu nahwu dan saraf.Selain itu juga di ajarkan semacam ilmu usul yang berisi materi rukun iman dan rukun Islam. Kitab rujukan utamanya adalah kitab Perukunan Melayu  karya Arsyad al-Banjari. Selain itu, terdapat juga pelajaran fikih yang termuat dalam kitab “1001 Masalah” yang amat praktis susunannya. Umumnya kitab-kitab rujukan ini menggunakan bahasa Arab Jawi (berbahasa Melayu beraksara Arab) dan sering kali tidak mencantumkan nama pengarangnya (anonymous). Selain ilmu fikih,terdapat kecenderungan berkembangnya ilmu tasawuf (Erwin, dkk 2005:19).

Namun, ketika penguasa ke-8 kesultanan Sambas, Muruhum Anom yang bergelar Sultan Muhammad Ali Tsafiuddin (berkuasa 1813-1826), mulai membangun institusi keagamaan Islam di Istana dengan melantik H. Nuruddin Mustafa sebagai imam kesultanan. Tugas imam adalah setiap hari datang ke istana untuk memberikan pengajaran agama terutama pengajian al-Qur’an dan sembahyang kepada kerabat Sultan (Machrus Effendy 1995:20). Dengan demikian, perkembangan berikutnya istana dijadikan lembaga pendidikan dikalangan elit penguasa, selain masjid. Lembaga pendidikan istana (palace school) inilah yang kemudian berkembang menjadi madrasah al-Sutaniyah. Kemudian Muhammad Tsaifudin II mendirikan madrasah al-Sultaniyah pada tahun 1868. Pada awalnya kurikulum madrasah ini masih terbatas pada pelajaran  Agama Islam. Peserta didiknya pun hanya dari kalangan kesultanan, aktivitas pembelajaran masih didalam istana. Namun setelah adanya pembauran dan adanya keinginan untuk membuat madrasah ini semakin baik, mulailah dikelola namun setelah adanya pembauran dan adanya keinginan untuk membuat madrasah ini semakin baik, mulailah dikelola dengan memasukan kurikulum pendidikan barat disamping pendidikan Islam, agar dapat menyaingi sekolah-sekolah milik kolonial Belanda. Lalu kemudian sekolah ini diganti namanya menjadi Tarbiatoel Islam (Erwin, dkk 2005:21).

4.    Kerajaan Sintang
Pada saat itu kerajaan Sintang di pimpin oleh Sultan Abdurrahman Muhammad Jalaluddin biasa disebut Sultan Aman, beliau memerintah tahun 1150 sampai 1200 H. Raja ini sangat fanatik terhadap Islam. Pada masa Sultan Aman ini Kerajaan Sintang didatangi dua orang ulama dari Aceh bernama Penghulu Abbas dan Raja Dangki dari Negeri Pagaruyung. Penghulu Abbas kemudian diangkat menjadi Penghulu Muda kerajaan dan Raja Dangki diangkat menjadi panglima perang karena keahliannya dibidang pencak silat dan ilmu nujum. Karena semangatnya mendakwah Islam, Sultan Aman mengirim utusan untuk menyebarkan Islam di hulu Sungai Kapuas. Seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa Sultan Aman juga memerangi orang-orang yang tidak mau masuk agama Islam (Hermansyah,dkk 2005:10).

Sumber :
http://senyumislam.wordpress.com/2012/09/10/perkembangan-islam-di-kalimantan-barat/
http://khuzmayudi.blogspot.com/2013/03/sejarah-pendidikan-islam-di-kalimantan.html
http://kesultanankadriah.blogspot.com/2011/01/islamsejarah-masuknya-ke-kalimantan.html
sumber foto :
http://melayuonline.com/ind/history/dig/386/kesultanan-kadriah

Kerajaan Islam di Kalimantan timur adalah Kesultanan Kutai yang merupakan kelanjutan dari kerajaan Hindu Kutai Kartanegara yang sudah berdiri sejak tahun 1300.
Masuknya Islam di Kalimantan timur di mulai pada abad ke – 17, berawal dari Kerajaan Bajar yang berasal dari Kalimantan selatan yang di komandai oleh Dato’ Ribandang dan Tuan Tunggang Parangan. Ekspedisi mereka berjalan dengan lancar, setelah itu dato’ Ribandang kembali ke Makassar dan Tuan Tunggang Parangan menetap di Kutai, pada masa ini lah Raja Mahkota mulai menganut ajaran Islam. selain daerah ini Islam juga datang dari arah Timur, yang dibawah oleh pedagang Bugis-Makassar. Islam yang datang diterima dengan baik oleh Kerajaan Kutai dan kemudian berubah menjadi kesultanan pada abad ke-18. Sultan pertama yang memerintah di Kesultanan Kutai adalah Sultan Aji Muhammad Idris 1732-1739.

Pada masa pemerintahan Sultan Aji Muhammad Idris, beliau pergi ke Sulawesi Selatan untuk menolong rakyat Sulawesi yang sedang berperang melawan penjajahan Belanda. Sehingga tahta kesultanan Kutai direbut oleh Aji Kado yang resmi menjadi Sultan dengan gelar Sultan Aji Muhammad Aliyuddin (1739-1780). Tahta kesultanan kutai sebenarnya akan diberikan kepada Aji Imbut putra mahkota Sultan Aji Muhammad Idris , namun karena usianya yang masih belia, Aji Kado mengambil alih kesultanannya.

Setelah Aji Imbut dewasa dan dinobatkan sebagai Sultan Kutai denga gelar Aji Muhammad Muslihuddin (1780-1816). Sejak itu dimulai perlawanan terhadap Aji Muhammad Aliyuddin. Karena Aji Muhammad Muslihuddin mendapat bannyak bantuan dari rakyat sehingga ia dapat memenangi perlawanan tersebut, dan akhirnya Aji Muhammad Aliyuddin dihukum mati.
Dalam kesultanan Kutai Islam dijadikan sebagai agama resmi Negara. Para ulama mendapat kedudukan terhormat sebagai penasehat sultan dan pejabat-pejabat kesultanan, disamping sebagai hakim. Hukum Islam diberlakukan dalam menyelesaikan perkara perdata dan keluarga. Sehingga ajaran Islam sangat berpengaruh di daerah tersebut.

Masa kejayaan Kesultanan Kutai ialah pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Muslihuddin (1739-1782) dan pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Salihuddin (1782-1850). Pada masa itu Kesultanan Kutai tampi sebagai daerah maritime yang memiliki armada pelayaran yang meramikan perdagangan. Hasil rempah yang di hasilkan Kesultanan Kutai diantaranya adalah lada, kopi, kopra, dan rempah-rempah. Sedangkan barang yang masuk ke daerah Kutai yaitu, sutra, porselin, dan lain-lain. Para pedagang dari Kesultanan Kutai sangat aktif berlayar di Kepulauan Nusantara, bahkan sampai ke Singapura, Filipina, dan Cina.

Mundurnya Kerajaan Kutai
Mundurnya Kerajaan Kutai diawali dengan kontaknya dengan bangsa Eropa pada tahun 1844, ketika kapal Inggris dibawah pimpinan Erskine Murray datang ke wilyah ini. Rakyat Kutai merasa tidak senang dengan kesombongan orang-orang Inggris tersebut, sehingga rakyat Kutai melakukan perlawanan terhadap orang-orang Inggris. Dalam perlawanan itu rakyat Kutai mencapai kemenangan, bahkan Erskine Murray mati terbunuh dalam peristiwa ini.

Ketika Belanda datang dari Makassar dan menyerang Tenggarong yang merupakan sebagai pusat Kesultanan Kutai, akhirnya dapat dikuasai oleh bangsa Eropa. Tenggarong berhasil dihancurkan Belanda pada tahun 1844. Sultan Muhammad Salihuddin terpaksa melakukan perjanjian damai, yang dikenal dengan perjanjian “Tepian Pandat Traktat”. Perjanjian ini merupakan akhir dari kemerdekaan Kutai, karena setelah perjanjian tersebut Kesultanan Kutai tunduk dibawah residen Belanda.


Sumber :
 http://sejarah.kompasiana.com/2013/04/20/masuknya-islam-di-kalimantan-bag-3-548367.html
kota-islam.blogspot.com/2013/10/sejarah-masuknya-islam-di-kalimantan.html


SEJARAH ISLAM MASUK KE TANAH DAYAK BESAR

Pada zaman dahulu kala, sekitar abad ke 15 Mandomai dan pada umumnya Kalimantan Tengah masih tergolong tempat yang masih murni yaitu hutan belantara dan belum tersentuh oleh para pendatang. Penduduk aslinya ialah Suku Dayak Ngaju yaitu suku Dayak yang mendiami sepanjang bantaran sungai Kapuas dan kepercayaan yang di anut pun masih kepercayaan nenek moyang yaitu Kaharingan yang artinya "Kehidupan". Suku Dayak Ngaju pada zaman dahulu merupakan salah satu suku terkuat yang melakukan budaya "Kayau" atau budaya berburu kepala, disamping Dayak Iban, Dayak Ot dan Dayak Kenyah.

Rumah tempat tinggal suku Dayak Ngaju pada zaman dahulu ialah Rumah Betang atau dalam bahasa Dayak Ngaju Kapuas di sebut "Huma hai". Rekonstruksi rumah ini seperti rumah panggung pada umumnya, mempunyai tiang rumah yang tinggi kira-kira 10 meter dan lebar rumah sekitar 50 meter. Maksud orang Dayak pada zaman dahulu mendirikan rumah tinggi ialah untuk menghindari dari bahaya seperti binatang buas, banjir dan budaya kayau. Rumah Betang biasanya di huni 20 bahkan sampai 100 kepala keluarga, tergantung dari ukuran rumah Betang tersebut.

Pada zaman dahulu sebelum kedatangan para pendatang, Mandomai dahulu bernama Desa Tacang Tangguhan, sebuah desa kecil yang pada kala itu hanya terdapat beberapa rumah Betang. Masyarakatnya pun kala itu masih tergolong premitif, menggunakan baju dari anyaman rotan, kulit kayu maupun kulit hewan. Kegiatan masyarakatnya masih tergolong sederhana seperti berburu, nelayan sungai dan bertani. Budaya kayau (berburu kepala) pada saat itu pun masih dipegang teguh. Selain itu budaya Dayak yang masih dipegang teguh oleh masyarakat kala itu masih murni seperti kepercayaan Kaharingan, tiwah (upacara kematian suku Dayak Ngaju), tatto, tari - tarian dan banyak lagi lainnya. Ciri - ciri fisik orang Dayak Ngaju zaman dulu ialah berkulit putih, bermata sipit, tubuh tegap, menggunakan celana "ewah" yaitu balutan kain dengan khas di julurkan selembar kain di depannya, menggunakan kalung dari taring binatang buas, menggunakan hiasan kepala baik ikat kepala maupaun dari anyaman rotan yang dihiasi dengan bulu burung dan senjata tradisionalnya berupa Mandau, Tombak, Sumpit dan perisai (telabang).

Sekitar abad ke-17, pada saat perang Kasintu pecah, orang-orang yang berada di daerah Tacang Tanggoehan pun mengungsi ke daerah Pulau Petak, sekitar tahun 1803-an mereka kembali lagi ke daerah Tacang Tanggoehan dan membangun dua buah rumah betang yang disebut “huma gantung ”(rumah tinggi) atau “huma hai”(rumah besar) yang terletak di sebelah hulu sungai Mandomai.

Panjang bangunan ini menurut sumber saksi sejarah yang sempat menyaksikan keberadaan bangunan ini panjangnya berkisar 50 meter lebih dengan lebar 30 meter, dan dari tulisan Muhammad Kurdi (1936) disebutkan bahwa bangunan ini dihuni oleh 50 kepala keluarga dalam satu rumah betang tersebut, hingga saat ini sebagian puing-puing bangunan tersebut masih tersisa, konstruksi bangunan ini menggunakan kayu ulin (kayu besi) dan situs yang masih kokoh berdiri dilokasi tersebut adalah dua buah sandung, hanya saja sangat disayangkan beberapa situs penting dalam sejarah ini dirusak dan dimanfaatkan untuk kepentingan beberapa pihak yang tidak bertanggung jawab.

 

MENILIK SEJARAH PERKEMBANGAN ISLAM DI MANDOMAI

 

Seperti penyebaran Islam yang ada di daerah umum lainnya, Islam masuk ke daerah Mandomai melewati jalur perniagaan, pedagang dari daerah Kuin, Bandarmasih (Banjarmasin) KAL- SEL yang sudah terlebih dahulu memeluk Agama Islam ini mensyiarkan Islam sambil melakukan aktifitas perdagangannya, diperkirakan Islam masuk ke daerah Mandomai ini sekitar abad ke-18, para penghuni “huma hai” pun tertarik dengan ajaran Islam yang menurut mereka sangat relevan dengan kehidupan manusia, penyebaran Islam begitu pesat di Mandomai, hal ini terbukti dari adanya pembauran budaya setempat dengan corak budaya Islam, seperti nisan makam yang berbentuk tinggi seperti sapundu (titian menuju surga menurut ajaran agama Kaharingan) berukirkan kaligrafi arab di sebuah makam seorang penghuni “huma hai” yaitu Oedjan.

 

Perkembangan Islam di Mandomai ini berkaitan erat dengan seorang tokoh di “huma hai” yaitu Oedjan ini, ayah Oedjan berasal dari daerah Palingkau, tepatnya Doesoen Timoer Patai, Oedjan adalah anak dari Damboeng Doijoe yang juga disebut seorang Temenggung Madoedoe sepupu dari Soetawana ayah Soetarnoe di Tamiang Layang, Temenggung Madoedoe ini anak dari Djampi yang merupakan kakek dari Oedjan yang sudah memeluk Ajaran Islam. Oedjan ini menikah dengan seorang gadis keturunan Portugis yang bernama Makau (Saleh), dari perkawinannya ini mereka di anugerahi 9 orang anak yaitu Sahaboe, Oemar, Aloeh, Galoeh, Soci, Ali, Esah, Tarih, dan Njai.

a. Hubungan kekerabatan ‘huma hai” dan orang Kuin, Bandarmasih

 

Abdullah bin Abu Samal memiliki dua orang Isteri, yang pertama beliau beristeri dengan Seah binti Akuh bin Aboe Naim yang masih keturunan Habib Pajar, kemudian isteri beliau yang kedua adalah Datuk Mantjung, dari istrinya yang pertama beliau dianugerahi 7 orang anak dan dari isterinya yang kedua beliau dianugerahi 6 orang anak. Yang berkaitan erat hubungannya dalam perkembangan Islam adalah berbesannya Abdullah bin Abu Samal dengan Oedjan bin Damboeng bin Djampi, yakni anak dari Abdullah bin Abu Samal dengan isterinya yang pertama yaitu KH. Abdul Gapoer dengan anaknya Oedjan bin Damboeng dari isterinya yang bernama Makau (Saleh) yaitu anaknya yang ke-7 bernama Esah, dari pernikahan ini lahir 2 orang putra yang berpengaruh dalam perkembangan Islam maupun perjuangan mencapai kemerdekaan yakni Igak dan H.M. Sanoesi yang sekarang makamnya ada di makam pahlawan di Kabupaten Pulang Pisau. Menurut sumber sejarah dikatakan bahwa Abu Samal yang merupakan ayah dari Abdullah adalah masih kerabat dekat dengan Raja Banjar yaitu Sultan Suriansyah yang kubahnya sekarang ada di Kuin, Banjarmasin Kalimantan Selatan.


b. Pesatnya perkembangan Islam ditandai dengan dibangunnya sarana tempat ibadah.

 

Pada tahun 1903, tepatnya pada tanggal 04-08-1903 didirikanlah sebuah Mesjid Jami Al-Ikhlas, yang di prakarsai oleh 4 tokoh masyarakat yaitu Rahman Abdi bin H. Muhammad Arsyad (Kuin), Abdullah bin H. Muhammad (penghulu Mandomai), Sabri bin H.Muchtar, Sahaboe bin H. Muhammad Aspar. Nama-nama para pemprakarsa pembangunan mesjid ini terpahat di 4 tiang mesjid Jami Al- Ikhlas ini yang disebut “4 tiang guru”.

H. Muhammad Aspar ini sepupunya H. Muhammad Sanoesi dan Igak yang juga keponakan dari KH. Abdul Gapoer (Tokoh syiar Islam di Mandomai). Mesjid ini dilihat dari arsitekturnya mengadopsi dari arsitek mesjid- mesjid yang ada di Kalimantan Selatan, bangunannya hampir serupa dengan Mesjid Jami yang ada di kelurahan Mambulau ketika belum di renovasi, yang selama ini di klaim sebagai Mesjid tertua yang ada di Kabupaten Kapuas, namun dari bukti sejarah yang telah kami telusuri dan terdapat bukti-bukti kebenaran sejarahnya, ternyata mesjid tertua yang ada di kabupaten Kapuas adalah Mesjid Jami Al-Ikhlas yang menurut perhitungan penanggalan tahun masehi sudah berusia kurang lebih 107 tahun, ini dihitung dari peletakan batu pertama pembangunannya sampai dengan sekarang, mesjid ini sudah mengalami beberapa kali renovasi dengan tidak merubah bentuk aslinya secara keseluruhan, namun bentuk kubah, dinding, atap, bentuk jendela dan pintunya sudah mengalami perubahan. Selama ini mesjid bersejarah ini kurang begitu diperhatikan oleh pemerintah, artikel singkat ini sengaja kami susun dengan penilitian yang seksama agar kiranya nilai sejarah perkembangan Islam di Kecamatan Kapuas Barat, Kelurahan Mandomai ini tidak terlupakan oleh kaum muslimin dan muslimat di Kabupaten Kapuas yang mencintai akar sejarah penyebaran ajaran agamanya dan menjadi semangat baru dalam syiar agama Islam dimasa yang akan datang.

c. Sejarah ringkas keturunan penulis dengan para pendahulu syiar Islam di Mandomai.

 

Penulis merasa penting untuk memuat silsilah ini, karena hal inilah yang jadi motivasi kami agar sejarah leluhur/pendahulu kami yang mensyiarkan ajaran Islam tidak terabaikan hasil kerja keras mereka dalam membangun mesjid tertua di kabupaten Kapuas yang merupakan pusat pembinaan umat dari semenjak dahulu hingga sekarang.

I. Abdullah bin Abu Samal menikah dengan Seah binti Akuh bin Aboe Naim keturunan Habib Pajar.

II. KH. Abdul Gapoer bin Abdullah menikah dengan Esah binti Oedjan bin Damboeng bin Djampi.

III. Igak bin KH. Abdul Gapoer menikah dengan Astareah bin Ali bin Oedjan.

IV. Muhammad Kurdi bin Igak menikah dengan Hj. Darsih binti Djunit.

V. Kartini binti Muhammad Kurdi menikah dengan Alwi bin Usman.

VI. Syuriansyah bin Alwi bin Usman bin Umar bin Ali menikahi Norhayati binti Ahmad Zailani.

VII. Norharliansyah bin Syuriansyah bin Alwi bin Usman bin Umar bin Ali.

 

Seiring dengan perkembangan zaman dan mulai memudarnya budaya kayau sekitar abad ke 18, para pendatang mulai berani menginjakkan kakinya di bumi Kalimantan Tengah. Umumnya para pendatang dari Tanah Banjar ( Banjarmasin ), dari tanah Jawa dan orang2 Belanda yang umumnya sebagai penjajah. Menilik sejarah kampung Mandomai, Mandomai sejak zaman kolonial Belanda sudah terkenal akan keramaiannya dan pada saat itu Mandomai di jadikan sebagai pusat penyebaran agama Kristen diseluruh Kalimantan Tengah. Mandomai juga merupakan tempat awal mula penyebaran agama Islam kepada orang Dayak terutama didaerah aliran sungai Kapuas. Jadi artinya mandomai sejak dulu sebagai pusat penyebaran 2 agama di Kalimantan Tengah. Dengan kedatangan para pendatang secara tidak langsung membawa perubahan pola hidup masyarakat suku Dayak Ngaju mulai dari kepercayaan sampai sosial budaya. Efek nyata dari budaya yang diterima adalah Agama Islam mulai masuk dan berkembang di Mandomai pada Abad ke-18 dengan berdirinya Mesjid Jami Al-Ikhlas yang merupakan mesjid tertua di bantaran sungai Kapuas, kemudian didaerah hilir Mandomai terdapat Gereja Immanuel yang dulu dijadikan zending sebagai pusat penyebaran agama Kristen kepada orang Dayak dan termasuk gereja tertua di Kalimantan Tengah. Seiring dengan membaurnya dengan para pendatang, suku Dayak pun sudah kehilangan budaya Betangnya dimana para generasi Dayak sudah mempunya rumah sendiri - sendiri setiap kepala keluarga. Mandomai banyak melahirkan orang2 yang sangat berpengaruh di Provinsi Kalimantan tengah, bahkan pejabat-pejabat provinsi Kalimantan Tengah dikota Palangkaraya banyak keturunan dari Mandomai.

Tokoh legenda yang paling terkenal di Mandomai ialah "Raden Inyui Amoi Gilang" dimana ia dipercaya sebagai pendiri kampung Mandomai. Ia adalah seorang lelaki Dayak yang gagah perkasa, yang mempunyai kesaktian yang tinggi, sifat dan karakternya menggambarkan khasnya orang Dayak, Sang penakluk rimba. Tempat makam Raden Inyui terletak di Mandomai Hulu berupa Sandung (makam kepercayaan Kaharingan) dan kini namanya di jadikan nama sebuah jalan di Mandomai yang di kenal dengan Jl. RIA Gilang. Kemudian di Mandomai hulu masih terdapat sisa Rumah Betang yang masih berpenghuni yang sekarang dijadikan salah satu cagar Budaya Dayak Kab.Kapuas yang masih tersisa, Sandung Tahutun Pantar yg mana disandung tersebut bertuliskan tahun 1735 yang menandakan kampung Mandomai termasuk kampung tua. Dari Mandomai kearah hulu lagi, dahulu ada anak sungai Kapuas yang dianggap keramat oleh warga setempat yaitu sungai Garantung, tetapi dengan seiring perkembangan zaman sungai tersebut sudah dianggap hal biasa bagi masyarakat setempat dan tidak begitu dianggap keramat lagi.

Mandomai bukanlah nama asli kampungnya, banyak versi mengenai nama Mandomai, ada yang mengatakan diberikan oleh orang - orang Banjar sebagai warga pendatang dimana Mandomai di ambil dari kata bahasa Dayak Ngaju " Mandui Mai " yang artinya " Ibu mandi " akibat orang - orang Banjar sering mendengar percakapan tersebut dari lisan orang Dayak, atas dasar itulah mereka memberi nama kampung Mandomai. Ada versi lain juga yang menyebutkan Mandomai diambil dari kata "Man = aman" dan "Domai = Damai" apabila digabung Mandomai berarti Desa yang Damai. Tapi banyak yang tidak mengetahui bahwa nama asli Mandomai ialah Tacang Tangguhan.

Kini Mandomai manjadi ibukota kecamatan Kapuas Barat, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, berbatasan langsung dengan Kabupaten Pulang Pisau. Mandomai membawahi beberapa Desa yaitu Desa Saka Mangkahai, Anjir Kalampan, Tumbang Umap, Pantai, Penda Katapi, Saka Tamiang dan masih banyak lagi yang lain. Sampai sekarang Mandomai masih dijadikan sebagai pusat pendidikan bagi warga sekitar Kecamatan Kapuas Barat dan sepanjang arah bantaran sungai Kapuas. Tapi meski hanya sebuah kecamatan, jauhkan pikiran bahwa Mandomai adalah daerah terpencil, karena di sana berbagai fasilitas seperti Sekolah, Layanan Kesehatan, jaringan internet, jaringan handphone, listrik dan lain sebagainya sudah tersedia sejak lama, dan akses jalannya pun sangat mudah, jadi tak ada kata tertinggal. Mayoritas penduduk kecamatan Kapuas barat (Mandomai) beragama Islam 70%, dan diikuti agaman Kristen Protestan, Katolik, dan kaharingan (Kepercayaan nenek moyang suku Dayak). Suku mayoritas di Mandomai adalah Dayak Ngaju ( Kapuas-Kahayan), Dayak Bakumpai, Dayak Ma'anyan, serta Dayak lainnya, Banjar ( Melayu Kalimantan ), diikuti oleh suku Jawa dan lain-lain



MASUKNYA ISLAM DI KALIMANTAN SELATAN


Barangkali sumber yang cukup tua menyebutkan bahwa Kalimantan pada periode menjelang masuknya Islam di Kalimantan ialah Negara Kartagama, yang ditulis oleh Mpu Prapanca tahun 1365 ini telah menyebut daerah Kalimantan Selatan yang diketahui ialah daerah sepanjang sungai Negara, sungai Barito dan sekitarnya.
Situasi politik di daerah Kalimantan Selatan menjelang Islam banyak diketahui dari sumber historiografi tradisional yakni Hikayat Lambung Mangkurat atau Hikayat Banjar. Sumber tersebut memberitahukan bahwa di daerah Kalimantan Selatan telah berdiri kerajaan yang bercorak Hindu Negara Dipa yang berlokasi sekitar Amuntai dan kemudian dilanjutkan dengan Negara Daha sekitar Negara sekarang.
Menjelang datangnya Islam ke daerah Kalimantan Selatan kerajaan yang bercorak Hindu telah berpindah dari Negara Dipa ke Negara Daha diperintah oleh Maharaja Sukarama, mertua Ratu Lemak. Setelah dia meninggal dia digantikan oleh Pangeran Tumenggung yang menimbulkan sengketa dengan Pangeran Samudera cucu Maharaja Sukarama, yang dilihat dari segi institusi kerajaan mempunyai hak mewarisi tahta kerajaan. Dengan demikian Negara Daha adalah benteng terakhir dari institusi kerajaan bercorak Hindu dan setelah itu digantikan dengan institusi bercorak Islam.
Sunan Giri sangat besar terhadap perkembangan kerajaan Islam Demak. Sunan Girilah yang memberikan gelar Sultan kepada raja Demak. Dalam hal ini sangat menarik perhatian hubungan antara Sunan Giri dengan daerah Kalimantan Selatan. Dalam Hikayat Lambung Mangkurat diceritakan tentang Raden Sekar Sungsang dari Negara Dipa yang lari ke Jawa. Ketika dia masih kecil kelakuannya menjengkelkan ibunya Puteri Kaburangan, yang juga dikenal sebagai Puteri Kalungsu. Waktu dia kecil karena sering mengganggu ibunya, dia dipukul di kepalanya dan mengeluarkan darah. Sejak itu dia lari dan ikut dengan juragan Petinggi atau Juragan Balaba yang berasal dari Surabaya. Juragan Balaba memeliharanya sebagai anaknya sendiri dan setelah dewasa dia dikawinkan dengan puteri Juragan Balaba sendiri. Dia mempunyai dua orang putera Raden Panji Sekar dan Raden Panji Dekar. Keduanya berguru pada Sunan Giri, Raden Sekar kemudian diambil menjadi menantu Sunan Giri dan kemudian bergelar Sunan Serabut. Raden Sekar Sungsang kemudian kembali menjalankan perdagangan sampai ke Negara Dipa. Dengan penampilan yang tampan Raden Sekar Sungsang adalah seorang pedagang dari Jawa, yang banyak mengadakan hubungan perdagangan dengan pihak kerajaan Negara Dipa. Akhirnya dia kawin dengan Puteri Kalungsu penguasa Negara Dipa, yang sebetulnya adalah ibunya sendiri. Setelah Puteri Kalungsu hamil barulah terungkap bahwa suaminya adalah anaknya yang dulu hilang. Mereka bercerai, Raden Sekar Sungsang memindahkan pemerintahannya menjadi Negara Daha, yang berlokasi sekitar Negara sekarang, sedangkan Ibunya tetap di Negara Dipa sekitar Amuntai sekarang. Raden Sekar Sungsang yang menurunkan Raden Samudera yang menjadi Sultan Suriansyah raja pertama dari Kerajaan Banjar.
Raden Sekar Sungsang Menjadi raja pertama dari Negara Daha dengan gelar Maharaja Sari Kaburangan. Selama dia berkuasa hubungan dengan Giri tetap terjalin dengan pembayaran upeti tiap tahun.Yang menjadi masalah adalah, kalau Raden Sekar Sungsang selama di Jawa kawin dengan melahirkan putera Raden Panji Sekar selanjutnya menjadi menantu Sunan Giri, adalah hal mungkin sekali bahwa Raden Sekar Sungsang juga telah memeluk agama Islam. Raden Panji Sekar menjadi seorang ulama yang bergelar Sunan Serabut, adalah hal yang wajar kalau ayahnya sendiri Raden Sekar Sungsang telah memeluk agama Islam meskipun keimanannya belum kuat. Kalau anggapan ini benar maka Raden Sekar Sungsang raja dari Negara Daha dari Kerajaan Hindu yang telah beragama Islam pertama sebelum Sultan Suriansyah.
Kalau benar bahwa Raden Sekar Sungsang yang bergelar Sari Kaburangan telah beragama Islam, mengapa dia tidak menyebarkan Islam itu pada rakyatnya. Hal ini terdapat beberapa kemungkinan. Kemungkinannya antara lain bahwa agama Hindu masih terlalu kuat, sehingga lebih baik menyembunyikan ke Islamannya, atau memang keimanannya belum kuat. Tetapi yang dapat disimpulkan bahwa Islam telah menyelusup di daerah Negara Daha Kalimantan Selatan, sekitar abad ke 13-14 Masehi.
A.A. Cense dalam bukunya “De Kroniek van Banjarmasin”, menjelaskan bahwa ketika Pangeran Samudera berperang melawan pamannya Pangeran Tumenggung raja Negara Daha. Pangeran Samudera menghadapi bahaya yang berat yaitu kelaparan di kalangan pengikutnya. Atas usul Patih Masih Pangeran Samudera meminta bantuan pada Kerajaan Islam Demak yang saat itu kerajaan terkuat setelah Majapahit. Patih Balit diutus menghadap Sultan Demak dengan 400 pengiring dan 10 buah kapal. Patih Balit menghadap Sultan Tranggana dengan membawa sepucuk surat dari Pangeran Samudera. F.S.A. De Clereq dalam bukunya. De Vroegste Geschiedenis van Banjarmasin (1877) halaman 264 memuat isi surat Pangeran Samudera itu. Surat itu tertulis dalam bahasa Banjar dalam huruf Arab-Melayu. Isi surat itu adalah : “Salam sembah putera andika Pangeran di Banjarmasin datang kepada Sultan Demak. Putera andika menantu nugraha minta tolong bantuan tandingan lawan sampean kerana putera andika berebut kerajaan lawan parnah mamarina yaitu namanya Pangeran Tumenggung. Tiada dua-dua putera andika yaitu masuk mengula pada andika maka persembahan putera andika intan 10 biji, pekat 1.000 galung, tudung 1.000 buah, damar 1.000 kandi, jeranang 10 pikul dan lilin 10 pikul”. Yang menarik dari surat ini adalah bahwa surat itu tertulis dalam huruf Arab. Kalau huruf Arab sudah dikenal oleh Pangeran Samudera, adalah jelas menunjukkan bukti bahwa masyarakat Islam sudah lama terbentuk di Banjarmasin. Terbentuknya masyarakat Islam dan lahirnya kepandaian membaca dan menulis huruf Arab memerlukan waktu yang cukup lama. Kalau Kerajaan Islam Banjar terbentuknya pada permulaan abad ke- 16, maka dapatlah diambil kesimpulan bahwa masyarakat Islam di Banjarmasin sudah terbentuk pada abad ke- 15. Karena itulah masuknya agama Islam ke Kalimantan Selatan setidak-tidaknya terjadi pada permulaan abad ke- 15.
Perdagangan sangat ramai setelah bandar pindah ke Banjarmasin. Disini dapat pula kita lihat perbedaan perekonomian antara Negara Daha dan Banjarmasin. Negara Daha menitik beratkan pada ekonomi pertanian sedangkan Banjarmasin menitik beratkan pada perekonomian perdagangan. Hubungan itu terutama adalah hubungan ekonomi perdagangan dan akhirnya meningkat menjadi hubungan bantuan militer ketika Pangeran Samudera berhadapan dengan Raja Daha Pangeran Tumenggung.
Pangeran Samudera adalah cikal bakal raja-raja Banjarmasin. Dia adalah cucu Maharaja Sukarama dari Negara Daha. Pangeran Samudera terpaksa melarikan diri demi keselamatan dirinya dari ancaman pembunuhan pamannya Pangeran Tumenggung raja terakhir dari Negara Daha. Patih Masih adalah Kepala dari orang-orang Melayu atau Oloh Masih dalam Bahasa Ngaju. Sebagai seorang Patih atau kepala suku, tidaklah berlebihan kalau dia sangat memahami situasi politik Negara Daha, apalagi juga dia mengetahui tentang kewajiban sebagai daerah takluk dari Negara Daha, dengan berbagai upeti dan pajak yang harus diserahkan ke Negara Daha. Patih Masih mengadakan pertemuan dengan Patih Balit, Patih Muhur, Patih Balitung, Patih Kuwin untuk mencari jalan agar jangan terus-menerus desa mereka menjadi desa. Mereka sepakat mencari Pangeran Samudera cucu Maharaja Sukarama yang menurut sumber berita sedang bersembunyi di daerah Balandean, Serapat, karena Pangeran Tumenggung yang sekarang Menjadi raja di Negara Daha pamannya sendiri ingin membunuh Pangeran Samudera.
Pangeran Samudera dirajakan di kerajaan baru Banjar setelah berhasil merebut bandar Muara Bahan, bandar dari Negara Daha dan memindahkan bandar tersebut ke Banjar dengan para pedagang dan penduduknya. Bagi Pangeran Tumenggung sebagai raja Negara Daha, hal ini berarti suatu pemberontakan yang tidak dapat dimaafkan dan harus dihancurkan, perang tidak dapat dihindarkan lagi. Pangeran Tumenggung kalah, mundur dan bertahan di muara sungai Amandit.
Dalam perjalanan sejarah raja-raja di Kalimantan Selatan, bila diteliti dengan seksama nampak bahwa pergantian raja-raja dari Negara Daha sampai Banjarmasin dari :
1. Maharaja Sari Kaburangan/Raden Sekar Sungsang
2. Maharaja Sukarama
3. Pangeran Mangkubumi/Raden Manteri
4. Pangeran Tumenggung
5. Pangeran Samudera
Bukan pergantian yang lumrah dari ayah kepada anak tapi dari tangan musuh yang satu ketangan musuh yang lain, melalui revolusi istana. Raden Sekar Sungsang usurpator pertama adalah pembangunan dinasti Hindu Negara Daha, dan Pangeran Samudera usurpator kedua adalah pembangun dinasti Islam Banjarmasin.

No comments:

Post a Comment